Kuliah Kerja Nyata di Desa Bantarwaru
![]() |
| Gapura masuk Desa Bantarwaru, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes |
Bulan Juli – Agustus lalu saya melaksanakan Kuliah Kerja
Nyata (KKN) sebagai salah satu kewajiban mahasiswa dalam melaksanakan Tri
Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat).
Tempat KKN yang saya pilih tepatnya di Desa Bantarwaru, Kecamatan Bantarkawung,
Kabupaten Brebes. Jenis KKN yang saya ambil adalah KKN Tematik yang merupakan
proyek pengabdian yang dilaksanakan oleh dosen atau kerjasama pemerintah dengan
universitas, bertema Pengembangan Lahan Kritis untuk Kebun Mangga Garifta
Menuju Terciptanya Destinasi Agrowisata Di Desa Inovasi Bantarwaru.
Kementerian Dalam Negeri pada tahun 2014 meluncurkan program
Pengelolaan Lahan Kritis dan Sumber Daya Alam Berbasis Mayarakat (PLKSDA - BM)
yang diadakan di beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya di Desa
Bantarwaru tempat saya melaksanakan KKN. Bentuk program PLKSDA-BM di Desa
Bantarwaru adalah pengelolaan lahan kritis yang merupakan lahan bengkok seluas
5 hektar dihamparan bukit terjal dan kering yang dibagi menjadi 31 petak untuk
31 anggota kelompok tani pengelola lahan kritis. Kondisi tanahnya memang kering dan tandus, semenjak adanya program
tersebut, bukit-bukit yang tadinya ditumbuhi alang-alang dan rumput duri,
dipenuhi ratusan pohon mangga. Akan tetapi letaknya yang berada di bukit
menyebabkan tanaman mangga tersebut kesulitan mendapatkan air. Tak sedikit
tanaman mangga yang tumbuh kerdil dan bahkan mati. Oleh karena itu salah satu
program KKN kami adalah pengadaan irigasi, yaitu mengalirkan air dari sungai
yang letaknya berada di bawah bukit ke atas bukit.
![]() |
| Instalasi jet pump; mengalirkan air dari sungai ke atas bukit |
Pengadaan Irigasi
Saat tinggal di Desa Bantarwaru,
saya sempat berfikir kenapa desa ini berada jauh dari jalan raya sehingga
menyebabkan akses jalan masuk ke desa begitu sulit dengan kondisi jalanan yang
berbatu. Alhamdulillah selama kami KKN, sedang dilaksanakan perbaikan jalan dan
masih berlanjut hingga kami pamit dari desa. Selain itu lahannya juga kering
dan kesulitan mendapatkan air pada musim kemarau, karena sungai berada di
bawah, sedangkan lahan berada di atas. Sehingga air sungai yang dangkal tidak
dapat naik dan mengakibatkan lahan tidak teraliri air. Saya menduga
bahwasanya Sungai Cipamali lah yang menjadi daya tarik masyarakat untuk
menempati daerah di sekitarnya. Tak aneh nama kecamatan (Bantarkawung) dan desa
(Bantarwaru) mengandung kata “Bantar” yang berarti pinggiran sungai.
Menurut informasi dari warga, tinggi air dari Sungai Cipamali
akan naik sangat drastis apabila musim hujan. Di musim kemarau sekarang ini
sungai menjadi dangkal, kami pun bisa leluasa menyebrang dengan berjalan kaki,
anak-anak desa bisa berenang, banyak para pencari ikan baik yang menggunakan
jaring, setrum listrik, maupun pancing. Kalau sudah musim hujan, akan sangat
berbahaya untuk melakukan aktivitas di sekitar sungai dikarenakan air secara
tiba-tiba bisa datang dan menyapu bersih apa yang ada disekitar sungai seperti
banjir bandang. Pada saat itulah air akan mengalir ke lahan pertanian. Lalu begaimana
ketika musim kemarau?
Pada musim kemarau, petani di Desa Bantarwaru melakukan
irigasi dengan menggunakan pompa diesel. Air sungai disedot oleh pompa, lalu
dialirkan ke lahan yang berada di atas. Kelompok tani pengelola lahan kritis
memiliki empat buah toren yang tersebar di empat titik untuk menampung air dari
pompa. Sudah dua tahun toren tersebut kosong dikarenakan biaya pengoperasian
pompa yang mahal, kira-kira menghabiskan biaya Rp 16.000 untuk mengisi penuh
empat toren serta banyak peralon yang bocor. Oleh sebab itu program pertama KKN
kami adalah mengganti pompa diesel itu menggunakan jetpump
listrik yang kami bawa dari kampus. Kira-kira butuh waktu dua minggu untuk
menuntaskan program irigasi, mulai dari instalasi pompa, membuat rumah pompa
dengan semen, menyalurkan listrik dari rumah warga, dan instalasi peralon baru.
Hasilnya empat toren berhasil terisi kembali setelah dua tahun kosong. Kini
kelompok tani dapat mengairi 402 pohon mangga beserta tanaman lain disekitarnya
tanpa khawatir biaya. Pengisian empat toren hanya membutuhkan waktu tiga jam
dan daya yang dibutuhkan sebesar 2,25 kWh seharga kurang lebih Rp 1.400. Sangat
jauh lebih murah dibanding menggunakan pompa diesel.
Walaupun kami telah berhasil melaksanakan irigasi, masih ada
pertanyaan yang mengusik kepala saya, apakah ada metode irigasi lain untuk
mengalirkan air sungai yang terletak di bawah ke atas bukit selain menggunakan
pompa?
Tanaman Mangga Garifta
Teman KKN saya yang
merupakan mahasiswa pertanian, mengatakan bahwa Desa Bantarwaru ini cocok untuk
ditanami tanaman mangga karena tanahnya yang kering. Kalau dilihat memang semua
rumah dan kebun di Desa Bantarwaru memiliki pohon mangga baik besar maupun
kecil. Varietas tanamannnya juga bervariasi seperti Mangga Arumanis, Mangga Golek,
Mangga Manalagi, dan satu lagi varietas mangga yang akan menjadi andalan dan
yang menjadi objek KKN kami yaitu Mangga Garifta.
![]() |
| Buah mangga garifta yang masih kecil |
Mangga Garifta merupakan varietas mangga yang pertama kali
ditanam dan dikembangkan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pada awal program
PLKSDA – BM Desa Bantarwaru, kelompok tani pengelola lahan kritis pergi ke sana
untuk menimba ilmu mengikuti sosialisasi pengembangan Mangga Garifta. Singkat
cerita kelompok tani membawa bibit dan ilmu yang mereka dapatkan ke desa dan
diterapkan pada lahan seluas 5 Ha. Hingga sekarang tercatat terdapat 402 pohon
mangga garifta yang tediri dari empat jenis yaitu garifta gading, merah, orange, dan kuning.
Mangga yang merupakan hasil persilangan dari beberapa mangga
lokal ini memiliki warna yang begitu
menawan dan rasanya yang manis manis, menjadikannya sebagai varietas baru yang
populer dan diminati banyak orang. Mangga Garifta memiliki ciri – ciri :
- Bentuk mangga ini agak lonjong dan berparuh
- Warna dagingnya kuning kemerahan, tekstur lembut, dan berserat halus
- Memiliki aroma harum yang khas cukup kuat
- Permukaan kulit buah halus dengan warna keunguan
- Panjang buah bisa antara 14-16,5 cm, dan berat buah kisaran 220-320 gram
Perbanyakan Tanaman Mangga Garifta
Memang disengaja jumlah anggota KKN kami sebanyak 16 orang
dan 12 di antaranya merupakan mahasiswa pertanian. Salah satu tugas mereka
adalah melakukan kegiatan perbanyakan tanaman. Malam kedua kami berada di Desa
Bantarwaru, didatangkan 1.200 batang bibit pohon mangga untuk memperbanyak
tanaman mangga garifta. Kami menggunakan pengembangbiakan vegetatif buatan
berupa sambung samping. Metode yang jarang digunakan, karena lebih sering orang
menggunakan sambung pucuk/enten. Sambung samping memiliki kelebihan salah
satunya apabila proses penyambungan gagal, atau entres membusuk, tanaman pokok
atau batang bawah tidak mati dan dapat digunakan untuk menyambung lagi.
Kira-kira membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk mengetahui sambungan kita
berhasil atau tidak. Jika berhasil maka akan terlihat bakal daun tumbuh di
ujung entres. Lalu plastik yang digunakan untuk mengikat dibuka secara
perlahan di bagian atas terlebih dahulu kemudian batang atas dari tanaman
intinya dipotong agar nutrisi dipusatkan ke sambungan.
Bibit – bibit mangga yang telah disambung dan berhasil hidup
tidak langsung dapat kami tanam. Harus dirawat hingga siap tanam kira-kira 5
bulan lagi yaitu pada akhir tahun atau awal tahun nanti. Saat hari itu datang
saya berencana untuk berkunjung ke Desa Bantarwaru lagi untuk menyaksikan penanaman
bibit mangga garifta yang telah kami sambung itu.
Analisis Usaha Tani
Secara
ekonomi prospek pengembangan Mangga Garifta begitu menggiurkan. Berdasarkan
Analisis Usaha Tani yang kami buat selama KKN, satu pohon manga diprediksi akan
menghasilkan 45 kg, dengan harga perkilonya Rp 30.000, dan sekarang terdapat
402 pohon mangga, maka pendapatan yang akan didapat secara keseluruhan sebanyak
Rp 361.800.000 apabila dikurangi biaya operasional maka keuntungan yang
didapat adalah Rp 343.730.400 per tahun.
Jumlah pohon
masing-masing lahan yang dikelola oleh anggota kelompok bervariasi tergantung
luas lahannya. Paling sedikit seorang anggota menanam sepuluh pohon, maka
paling tidak ia dapat memanen 450 kg buah mangga dengan harga jual Rp 13.500.000 untuk satu kali masa panen. Belum lagi jika
para anggota kelompok tani mampu mengembangkan tanaman mangga yang dapat
dipanen dua kali dalam setahun. Tentunya membutuhkan usaha dan modal yang
lebih.
Penguatan
Kelembagaan
Saya merasa Desa Bantarwaru ini termasuk desa yang aktif
melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial. Selain terdapat kegiatan rutinan seperti
pengajian, kegiatan bagi lansia, posyandu, ada juga kegiatan yang dilaksanakan
oleh organisasi pemuda dan remaja. Di antaranya terdapat kelompok PIK –R penggeraknya
adalah remaja-remaja SMP-SMA; kelompok pemuda, dan beberapa kelompok tani. Walaupun
demikian, sama seperti organisasi pada umumnya organisasi yang ada di desa tak
luput dari permasalahan. Masalah yang saya temukan diantaranya kurangnya pengalaman
dalam memanajemen organisasi dan proses kaderisasi yang tidak berjalan.
![]() |
| Saat sosialisasi kelembagaan pemuda Desa Bantarwaru |
Melihat hal itu kami diminta untuk memberikan sosialisasi
terkait keorganisasian kepada pemuda, walaupun sebenarnya program penguatan
kelembagaan kami hanya ditujukan pada organisasi kelompok tani. Meskipun
demikian ada pentingnya juga melakukan penguatan kelembagaan organisasi
kepemudaan, karena sifat pemuda yang dinamis dan mampu menggerakkan masyarakat
akan sangat bermanfaat kedepannya dalam pelaksanaan program desa inovasi. Tentunya
pemuda yang aktif dalam berorganisasi akan menuntut kemajuan desa menjadi lebih
sejahtera.
Menuju Desa Agrowisata
Keinginan Pemerintah Daerah
Kabupaten Brebes, Desa Bantarwaru menjadi desa inovasi yaitu menjadikannya
sebagai desa agrowisata tanaman mangga garifta. Kelak di tanah bengkok seluas 5
Ha itu akan dikunjungi wisatawan baik dari warga sekitar maupun luar daerah. Pohon mangga garifta yang sekarang berjumlah 402
akan ditambah lagi dari hasil sambung kemarin, paling tidak akan mendekati
angka 1000 pohon. Ketika musim mangga telah tiba, akan terlihat warna merah,
hijau, kuning, orange yang akan menghiasi ratusan tanaman mangga. Siapa yang
tidak terpukau melewati jalan masuk Desa Bantarwaru? Sepanjang jalan akan
berdiri kios-kios yang menjajakan buah mangga beserta olahan-olahannya.
Warung-warung warga berjejeran menyambut wisatawan yang datang menjajakan
makanan dan minuman pengobat lelah berkeliling kebun mangga.
Tentunya untuk menuju desa agrowisata membutuhkan perencanaan
yang matang, usaha yang keras, dan kerjasama yang baik antara berbagai pihak.
Pemerintah desa sebagai pengampu kebijakan, kelompok tani sebagai pengelola
lahan dan tanaman, kelompok pemuda sebagai penggerak masyarakat, serta
unit-unit lain dalam masyarakat perlu ada sinergi untuk mewujudkannya. Tidak cukup
waktu setahun dua tahun untuk membuat suatu trobosan yang besar apalagi yang
menyangkut kesejahteraan masyarakat. Kami
sebagai mahasiswa turut mendukung melalui serangkaian program KKN, walaupun hanya
sebentar. Sisanya tergatung pada pemerintah dan masyarakat desa. Semoga masyarakat
Desa Bantarwaru dapat mewujudkan apa yang telah dicita-citakan.
Demikianlah sedikit cerita yang dapat saya bagikan mengenai KKN saya di Desa Bantarwaru. Nantikan kelanjutannya pada artikel lainnya.
Nb: Foto-foto diambil oleh Tim KKN Inovasi Unsoed Desa Bantarwaru 2019







Good Job, Well Done. Hope your work will inpire Bantarwaru people to make their dreams come true
BalasHapusTerima kasih kka tlah membuatkan artikel ttg desa kami. Terima kasih juga telah berbagi ilmu dengan kami. Semoga link ini dibaca oleh banyak orang, dan sehingga lebih banyak lagi orang2 luar yg datang ke desa kami. Dan semoga impian desa akan adanya agrowisata dapat terwujud meski itu butuh proses. Ini kenang2n yg luar biasa buat desa, karena kmi jga btuh media seperti ini untuk memperkenalkn desa bantarwaru lebih luas lagi. Good job kka, smga nilai KKN klian smua mndptkn hsl yg memuaskn jg.
BalasHapus