BUMDes dan Kesejahteraan Masyarakat Desa



Sebagai seorang yang dilahirkan di desa dan menjadi anak seorang mantan perangkat desa, saya justru tidak ingin tinggal di desa. Lah kenapa? Sama halnya seperti pemuda-pemuda desa lainnya, lebih memilih untuk pergi merantau ke ibu kota atau kota besar lainnya untuk mengadu nasib. Hanya saja sampai saat ini saya baru dalam rangka menuntut ilmu. Termasuk nanti mungkin akan keterusan sampai masa kerja, lebih memilih di kota daripada di desa.

Di Desa Emang Ada Apa?
Mayoritas masyarakat desa bekerja sebagai petani, baik mengelola lahan sendiri atau sekedar menjadi buruh. Beberapa ada yang berdagang, di pasar atau keliling, atau membuka warung di rumah. Sebagian kecil ada yang bekerja sebagai kuli bangunan, karyawan, dan guru. Tergantung juga pada kondisi geografis suatu desa, pada daerah pesisir mayoritas bekerja sebagai nelayan atau petani garam. Selain itu?

Di desa tidak ada apa-apa selain lahan pertanian, sungai, gunung, bukit, danau, goa, dan lain sebagainya. Tidak seperti perkotaan yang menawarkan apa saja yang tidak akan kita temukan di desa. Gedung perkantoran, supermarket, kafe, hotel, atau apa pun lah, sehingga kita akan merasa ‘kecil’ dan dimanjakan dengan itu semua. Maka wajar daya tarik perkotaan mengundang penduduk desa laki-laki maupun perempuan, yang tua maupun yang muda untuk pergi berbondong-bondong ke sana menjemput rejeki. Lalu siapa yang akan tetap tinggal di desa? Karena itu tadi, emang ada apa di desa?

Desa dengan Segala Potensinya
Setiap desa di Indonesia pastinya memiliki potensi masing-masing baik yang telah dimanfaatkan maupun belum. Paling minimal sebagian desa masih memiliki lahan pertanian yang sangat luas, sebagian memiliki pantai yang panjang, sebagian memiliki sungai yang selalu mengalir, danau, atau sumber daya alam lainnya. Bukankah itu semua adalah potensi?

Saya tercengang dan terdiam tanpa kata ketika bersilaturahmi di rumah Pak Eko, seseorang yang bekerja di perhutani dan juga seorang aktivis desa. Pada waktu awalnya saya berdiskus dan saran terkait dengan pengembangan desa. Karena saya memperkenalkan diri sebagai seorang mahasiswa hukum, lantas beliau membuka diskusi dengan memperkenalkan kepada saya kepada UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Sebuah undang-undang yang sebelumnya tidak pernah berminat untuk membacanya. Beliau menjelaskan isi undang-undang tersebut khususnya berkaitan dengan BUM Desa (Badan Usaha Milik Desa), dengan bahasa yang sangat jelas, dan membuat saya terpana. Intinya ketika saya mendengarkan beliau, BUM Desa adalah solusi bagi kesejahteraan masyarakat desa.

“Badan Usaha Milik Desa, yang selanjutnya disebut BUM Desa, adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesarbesarnya kesejahteraan masyarakat Desa.”

Pengelolaan aset desa telah diatur lebih lanjut dengan Permendagri No. 1 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Aset Desa, beberapa isinya mengenai apa saja yang termasuk aset desa, mana saja yang boleh dijual, dan bagaimana cara mengelolanya. Sedangkan BUM Desa diatur lebih lanjut dalam Permendes PDTT No. 4 Tahun 2015 Tentang Pendirian, Pengurusan Dan Pengelolaan, Dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa.

Desa Ponggok, Sebagai Contoh
Pak Eko memberi saya sebuah contoh desa yang telah sukses menjalankan BUM Desa, Desa Ponggok namanya. Desa yang terletak di Kabupaten Klaten ini memiliki destinasi wisata yang telah terkenal dan viral di media sosial dan bahkan stasiun televisi nasional juga turut meliputnya, Wisata Umbul Ponggok. Siapa sangka sebuah BUM Desa (BUMDes Tirta Mandiri), pada tahun 2016 memiliki pendapatan sebanyak Rp 10.300.000.000 (sepuluh milyar tiga ratus juta rupiah)[1], angka yang begitu fantastis bagi badan usaha yang ada di desa. BUMDes Tirta Mandiri mampu mengelola Umbul Ponggok, sebuah wisata pemandian yang sebenarnya telah ada sejak dahulu. Namun menjadi terkenal dan viral beberapa tahun belakangan ini. Tak hanya mengelola Wahana Wisata Umbul Ponggok, BUMdes Tirta Mandiri juga mengelola Restoran & Kolam Renang Ponggok Ciblon yang menawarkan wahana air dan juga menawarkan berbagai macam olahan ikan. Begitu banyak potensi yang dikelola, sehingga wajar jika pendapatannya menyentuh angka milyaran.
Pendapatan yang diperoleh BUM Desa sebagian akan dialokasikan dalam pendapatan asli desa yang kemudian dapat dianggarkan untuk pembangunan desa. Jadi desa akan mampu mandiri secara ekonomi, tanpa mengharap bantuan dari Pemerintah. Semakin banyak pendapatan asli desa yang diperoleh maka semakin banyak dana yang dapat dianggarkan untuk melakukan pembangunan-pembanggunan baik dibidang fisik/infrastruktur maupun non fisik/pemberdayaan masyarakat.

Bagaimana Desa Lain?
Tak hanya Desa Ponggok, beberapa desa juga telah berhasil mengelola BUM Desa hingga mendapatkan penghasilan yang tak kalah banyak. Antara lain BUMDes Tirtonirmolo BUMDes milik Desa Kasihan, Bantul ini mengembangkan unit usaha simpan-pinjam yang memiliki pendapatan hingga Rp 8,7 Milyar; BUMDesa Mandala Giri Amerta milik Desa Tajun, Kabupaten Buleleng memiliki pendapatan mencapai Rp 5,1 M dengan mengembangkan berbagai unit usaha berupa pengelola sarana air bersih, pasar desa, dan simpan pinjam; BUMDes Karangkandri Sejahtera milik Desa Karangkandri, Kecamatan Kesugihan, Cilacap mencapai pendapatan hingga Rp 3 Milyar dengan unit usah sebagai supplier kebutuhan PLTU; dan masih banyak lagi BUMDesa yang berhasil memanfaatkan potensi desanya.[2]

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah desa di Indonesia sebanyak 75.436 desa (bukan kelurahan).[3] Akan tetapi jumlah BUM Desa se Indonesia pada tahun 2016 hanya sebanyak 14.686 desa, dan hal ini dapat dikatakan masih sangat sedikit karena baru menyentuh persentase 19,4%. Lalu bagaimana kabar 80.6% lainnya?
Desa Butuh Orang Cerdas dan Kreatif
Layaknya BUMN dan BUMD yang dikelola oleh profesional dan digaji dengan nominal yang tidak sedikit, BUM Desa pun sama. Sebuah badan usaha tak hanya membutuhkan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan produksi melainkan juga sumberdaya manusia untuk menjalankan produksinya. Desa butuh orang-orang cerdas yang mampu menyusun serta memecahkan masalah-masalah unit usaha yang ada dan butuh orang-orang kreatif yang mampu mencari, mengelola, dan mengembangkan potensi desa untuk didaya gunakan sebesar-besarnya untuk memeroleh keuntungan demi kesejahteraan rakyat desa.

Bahkan dalam Permendes PDTT No. 4 Tahun 2015 mensyaratkan untuk menjadi Pelaksana Operasional BUM Des diantaranya adalah masyarakat desa yang mempunyai jiwa wirausaha, mempunyai perhatian terhadap usaha ekonomi desa, dan minimal berpendidikan minimal SMA/Sederajat. Dengan adanya syarat yang sedemikian rupa, secara filosofis pelaksana operasional BUM Desa adalah orang yang tak hanya ‘pintar’ tetapi juga memiliki kemampuan manajerial yang bagus.

Semangat UU Desa
Lahirnya UU Desa sebenarnya merupakan harapan baru bagi desa yang sebelumnya masih dirundung ketidakpastian arah pembangunan. Kini pemerintah desa diberi ruang yang sangat luas untuk melakukan improvisasi dan inovasi dalam memajukan desanya. Tidak ada kata lagi bahwa semua masalah yang ada di desa dikarenakan ketidak sanggupan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah dalam bekerja. Semua telah menjadi tanggungjawab pemerintah desa bersama dengan warganya. Dana Desa telah digelontorkan begitu saja selama empat tahun ini. Silahkan masyarakat desa dari RT 1 sampai RT 7, dari RW 1 sampai RW 7, dan dari dusun A ke dusun E menyampaikan aspirasinya untuk mengadakan pembangunan bersama. Bukankah semua warga berhak bicara dalam musyawarah dusun atau musyawarah desa?

Semangat UU Desa mengharapkan kehidupan desa yang otonom dalam mengelola pemerintah dan kemasyarakatannya. Kepala Desa telah diberi senjata berupa Peraturan Desa untuk melegalkan segala kebijakannya selama belum dibatalkan oleh pejabat yang berwenang. Masyarakat diberi hak untuk menyampaikan aspirasinya dalam berbagai kesempatan baik yang diberikan oleh pemerintah desa maupun atas inisiatif sendiri. Kini tinggal seberapa serius Pemerintah Desa bersama masyarakat desa mewujudka mimpi-mimpinya.

Berminat untuk kembali ke desa?

Sebuah Diskusi Bersama Seorang Petani


 
“Pak Nawan, petani kan panennya musiman, buat kebutuhan sehari-hari dari mana?”
Sebuah pertanyaan yang sudah saya siapkan sebelum berangkat ke Desa Bantarwaru pada siang itu. Sebelumnya saya sedikit berdiskusi dengan Ir. Supartoto di LPPM Unsoed membahas beberapa hal mengenai hasil KKN kemarin. Termasuk tentang keheranan saya mengenai penghasilan petani di Bantarwaru yang tetap memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti biasa, padahal penghasilan mereka ditentukan pada waktu panen saja. Satu pertanyaan itu lantas saya tanyakan kepada Pak Nawan.

Tentang Pak Nawan
Beliau bisa dibilang adalah seorang guru selama saya KKN di Desa Bantarwaru. Banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari beliau, selain terkait masalah pertanian, juga tentang kehidupan. Kebetulan beliau adalah salah satu pengurus Kelompok Tani PLKSDA- BM, jadi bersama beliaulah setiap harinya kami melaksanakan beberapa program kerja KKN. Kalau dipikir-pikir memang selama ini yang mengerjakan progam kerja adalah Pak Nawan, kita hanya membantu. Hehe

Beliau orang Jawa Timur, Bojonegoro dan tinggal di Bantarwaru karena menikah dengan istrinya. Kata beliau awalnya tidak pernah megang cangkul atau arit, Cuma sejak di Bantarwaru beliau jadi petani. Alhamdulillah, katanya. Saya suka tinggal di Bantarwaru. Awalnya beliau merantau di Jakarta sendirian sampai akhirnya bertemu dengan Ibu Teteh, warga Desa Bantarwaru. Hingga sekarang Pak Nawan aktif bertani dan memimpin beberapa kelompok masyarakat, lahannya yang ada dibelakang rumah lumayan luas, sampai tidak keurus, keteteran katanya. Belum lagi kebun yang berada di sana, tempat kami mengambil kelapa muda.

Seminggu setelah penarikan KKN, saya kembali lagi ke Bantarwaru untuk suatu urusan. Lalu saya sempatkan untuk mengunjungi Pak Nawan di rumahnya, kebetulan beliau baru datang dari Bojonegoro. Waktu kami mau selesai KKN, sebetulnya Pak Nawan ini juga pamit mau pulang kampung dulu.

Diskusi Senja Bersama Pak Nawan
Sore itu sekitar pukul 15.45, di ruang tamu kami mengobrol. Tumben saya tidak dikasih unjukan, biasanya dikasih. Beliau duduk sambil merokok, tapi saya tidak ditawari, karena beliau tahu saya tidak merokok.

“Pak Nawan, jadinya kapan irigasinya dipakai?” saya menanyakan terkait kelanjutan irigasi yang sudah kami kerjakan dulu, karena sudah selesai tapi belum juga dipakai untuk menyiram tanaman.

“InsyaAllah hari minggu mau saya kumpulin anggota buat bahas pembagian nyiramna” jawaban dengan logat khas jawa timuran tapi kecampur sunda Bantarwaru.

“Secepatnya ya pak, biar nanti sekalian lahan yang belum dapat air, bisa ditentukan kapan beli dan masang peralonnya.”

“Iya. Nanti yang belum dapat air, uang iurannya ditabung dulu, kira-kira kalau harganya 500rb, 10 bulan udah bisa beli peralon baru” ngomong-ngomong iuran untuk irigasi tiap bulannya anggota ditarik Rp 5000.

“Oh ya pak, saya mau nanya, petani kan panennya musiman, buat kebutuhan sehari-hari dari mana?”

“Ya kalau di Bantarwaru ini ya kebanyakan yang laki-laki merantau, terus uangnya dikirim ke rumah. Itu yang dipakai buat kebutuhan sehari-hari. Kalau saya ya, kebetulan istri buka toko depan rumah, jadi dari situ yang dipakai buat kebutuhan sehari-hari. Kalau nggak gitu ya pusing, tiap harinya uang dari mana. Ada juga yang ngutang ke toko, sampai nunggak dua juta, terus yang merantau pulang, uangnya dipakai buat bayar hutang.”

“Tapi ya Pak, kata Pak Toto, petani disarankan nanam sayuran juga. Soalnya sayuran itu kan panennya cepet. Misal kacang panjang itu bisa panen setelah 45 hari ditanam tiap tiga hari sekali bisa panen. Jadi dapet kan penghasilan harian.”

“Iya, kayak gitu harusnya. Saya baru-baru ini juga coba-coba nanam sayuran di depan rumah pakai polybag, dulu mah nggak ada tanaman di depan rumah.”

“Terus hidup di desa juga nggak begitu pusing mikirin makan ya pak, apa-apa tinggal ambil di kebun. Menurut saya orang desa itu cukup tahan terhadap gejolak perekonomian, Pak."

“Jujur saya merasa tenang sejak jadi petani. Beda dulu waktu di Jakarta, jualan. Dikejar-kejar target penjualan. Mikirin uang sewa tempat, dipikirin terus. Ya kalau yang beli rame, kadang-kadang sepi. Kalau di desa jadi petani gini ya santuy. Pas cabe mahal kan saya nggak pernah beli, soalnya di kebun ada tinggal ambil.”

“Saya kemarin diskusi sama temen-temen KKN yang pertanian, pertanyaannya juga sama, petani dapat uang pas panen, terus pas lagi nunggu panen dapat uang dari mana. Jawabannya ada di PERTANIAN TERPADU. Jadi selain nanam juga pelihara ternak, sapi, kambing, ayam. Kalau Ayam kan bisa dijual daging atau telurnya, kotorannya dijadiin pupuk, terus bikin kolam lele juga bisa. Makanya saya kagum di lahan mangga itu dibangun kolam lele. Jadi petani kalau pas lagi nunggu panen palawija, bisa panen sayuran, bisa panen lele, bisa jual ternak. Pemasukannya banyak, tergantung pengen seberapa banyak mau cari untung. Tapi ya itu usahanya kudu keras.”

“Saya juga sudah gitu, Mas. Cuman jarang petani yang kayak gitu. Punya uangnya pas panen doang. Ini rumah saya kalau panen jagung penuh sama karung. Kalau panen padi, saya bisa punya beras selama setahun. Ini lahan saya yang di belakang rumah kan saya kuwalahan.”

“Lah emang beras bisa tahan lama apa, Pak?”

“Enggak, jadi disimpennya masih dalam bentuk gabah, kalau beras habis tinggal diselep jadi beras. Kadang juga tetangga pada minjem. Dibalikinnya pas udah panen. Gabah, dibalikin pakai gabah.”

“Emang kalau panen gitu, dijual berapa, Pak?”

“Ya kalau gabah paling 4000, kalau udah jadi beras 7000.”

“Kalau ternak sapi gitu bisa dijual kapan, Pak?”

“Ya tergantung, mau penggemukan atau budidaya. Kalau penggemukan belinya yang jantan, 7 bulan udah bisa dijual dapat 10 juta.”

“Itu belinya berapa kalau penggemukan 5 juta. Kalau mau nggak repot mah, bisa minta orang buat ngerawat. Jadi perjanjiannya 50-50 dari keuntungan. Misal beli sapi kecil harga 5 juta, penggemukan, dijual laku 10 juta, untung 5 juta kan. Yang 5 juta balik modal saya, 5 juta keuntungannya dibagi dua. Lumayan kan.”

“Iya ya, Pak. Daripada anak muda sini pada merantau, mending dikasih kerjaan kayak gitu. Tapi kan ya sapinya perlu banyak ya. Ya ibaratnya beli sapi tiap bulan buat penggemukan, nanti jualnya juga tiap bulan, udah dapat penghasilan bulanan. Tapi kok belum ada yang kayak gitu ya. Btw, Pak Nawan punya tabungan nggak?”

“Ya punya, itu sapi tabungan saya.”

“Oo gitu ya, bagus juga tabungan berupa hewan. Tiap waktu nambah berat badan, nambah keuntungan. Jadi tabungan nambah tanpa pakai bunga.”

“Pak Nawan nggak nanam albasia (sengon)?”

“Saya nanam tuh di kebon yang sebelah sana. Itu juga buat tabungan. Wah kalau dijual itu bisa sampai 2 juta satu pohonnya.”

“Mantap. Semua petani harusnya gitu lah, Pak. Kebanyakan abis panen, lahannya kosong, sambil nunggu nanam yang lain lagi. Jadi mereka penghasilannya musiman. Coba kalau sebagian ditanami albasia, kalau butuh uang nanti bisa nebang beberapa, sebagian lagi ditanami palawija, dapat kan penghasilan tiap catur wulan, dan sebagian lagi ditanami sayuran, dapat tuh penghasilan bulanan. belum lagi melihara ternak sama budidaya ikan. Sebenernya saya dikosan juga nanam pak, Kaktus. Hehe. Udah punya empat sekarang. Rencana mau nanam mint nih. Cuma ya buat konsumsi sendiri.”

“Ya kalau bisa ya nggak dikonsumsi sendiri, bisa dijual.”

“Nggak sempet mikir yang begituan, Pak.”

“Dulu tuh pernah dikasih bantuan Jahe Merah dua ton.”

“Waduh, satu truck penuh dong, Pak.”

“Iya satu truck itu. Tapi petani di sini pada nggak siap buat nanam, jadi ya gagal panen. Padahal enak itu nanam Jahe Merah. Dia tumbuh jahenya kan ke atas. Jadi kalau udah kelihatan  tumbuh tinggal diurug lagi, terus gitu sampai penuh.”

“Saya dulu juga sempet kepikiran nanam jahe merah di polybag, Pak waktu SMA.”

“Pakai polybag juga bagus. Itu saya masih punya jahe merah di kebon.”

“Kapan-kapan deh Pak kalau ke sini lagi saya minta buat ditanam di kosan. Nantis saya pulang habis magrib.”

Lalu..

“Hehe..” kita ketawa bareng.

Sebenarnya masih ada banyak hal yang kami bahas pada sore itu. Hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, artinya sudah mau maghrib. Saya pun berpamitan pada Pak Nawan dan Ibu Teteh, karena akan kembali ke Purwokerto.

Membawa Sebuah Mimpi
Saya pulang dari Bantarwaru dengan membawa mimpi-mimpi sederhana, ya bercocok tanam denganmu. Kita beli lahan dekat rumah, menanam albasia, jati, pohon pisang, ketela, palawija, pohon mangga, ternak sapi, kambing, ayam, dan tak lupa punya kolam lele. Pagi-pagi kita ke sawah juga urus ternak, sampai siang. Sorenya ngajar ngaji sampai malam. Ah! Sesederhana itu menjalani kehidupan sebagai seorang petani.

Tentunya tak semudah itu kan ya.

Keindahan Desa Bantarwaru, Desa Seribu Pohon Mangga


Sungai Cipamali di Desa Bantarwaru

Siapa yang tak kenal Desa Bantarwaru? Banyak orang memang tak mengenal nama desa yang memiliki potensi berupa tanaman mangga dan pemandangan yang indah ini. Coba ketik “Desa Bantarwaru” di mesin pencarian google atau yang lain, maka mesin pencarian akan menampilkan Desa Bantarwaru di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Padahal bukan desa itu yang saya maksud, melainkan desa yang menjadi tempat KKN saya pada bulan Juli-Agustus lalu. Telah saya ulas secara singkat mengenai Desa Bantarwaru pada artikel sebelumnya, bahwa Desa Bantarwaru rencananya akan dijadikan sebagai desa agrowisata sebagai bagian dari program Pemerintah Kabupaten Brebes.

Letaknya sekitar satu setengah jam dari Purwokerto dan empat puluh menit dari Kecamatan Bumiayu, Brebes. Begitu dekat, tapi kenapa tidak ada yang menjenguk saya ketika KKN? Desa Bantarwaru merupakan salah satu desa di Kecamatan Bantarkawung, salah satu kecamatan yang nantinya akan menjadi bagian dari Kabupaten Bumiayu apabila pemekaran wilayah Kabupaten Brebes benar-benar dilaksanakan. Akses untuk menuju ke Desa Bantarwaru kini sangat mudah dengan menggunakan kendaran roda dua maupun roda empat. Dari pertigaan pasar bumiayu belok ke arah kiri (dari Banyumas) atau belok kanan (dari Brebes) lalu lurus saja sekitar empat puluh menit hingga masuk ke pasar Desa Bangbayang. Di situ kamu akan menemukan pertigaan, lalu belok kanan, lurus setelah jembatan akan ada gang di kanan jalan samping pengisian air galon, nah belok kanan lalu lurus terus sampai menemukan gapura Desa Bantarwaru. Lebih mudah lagi apabila kamu menggunakan bantuan aplikasi Google Map.

Pada awalnya akses menuju ke sana sangat sulit karena jalanan rusak berbatu dan berdebu. Tetapi alhamdulillah sekarang semua sudah diperbaiki. Saya ingat ekspektasi awal masuk ke desa, sepertinya KKN kali ini akan penuh dengan perjuangan. Selama KKN jalan dari Desa Bangbayang hingga ke Desa Bantarwaru diperbaiki, jadi sekarang tidak penuh dengan perjuangan lagi. Sebenarnya petunjuk yang saya berikan di atas adalah jalan memutar dan lumayan jauh. Sebenarnya untuk masuk ke Desa Bantarwaru bisa langsung dari Jalan Raya Bumiayu – Bantarkawung. Tetapi memang jalan ini belum berupa jalan aspal dan hanya bisa dilalui pada musim kemarau, karena harus menyeberangi sungai tanpa jembatan. Hanya butuh kurang dari 10 menit untuk sampai ke Desa Bantarwaru melalui jalan ini dibandingkan melalui Desa Bangbayang.

Ada dua jalan ketika kita mau masuk ke desa, yaitu jalan menaiki bukit atau jalan pinggir sungai. Awalnya jalan masuk ke desa adalah jalan di pinggir sungai dan itu sangat jauh karena memutari bukit. Mungkin dahulu pembuat jalan belum sanggup untuk membelah bukit, sehingga memilih untuk membangun jalan di bagian lereng. Tetapi sekarang jalan yang sudah diperbaiki adalah jalan yang menaiki bukit, jelas lebih cepat, tapi sangat curam. Kata Pak Nawan, dulu jalan itu dibuat melalui swadaya masyarakat, bersama-sama menggunakan cangkul, atau apa saja untuk membuka jalan baru melalui bukit.

Gapura masuk Desa Bantarwaru berada tepat di persimpangan jalan antara jalan pinggir sungai dengan jalan melewati bukit. Kita tidak langsung disambut oleh perumahan warga, melainkan hamparan lahan pertanian yang begitu luas tapi berbukit. Lahan yang berada di kanan jalan adalah tanah bengkok desa seluas 6 Ha dan bagian 5 Ha merupakan lahan yang dikelola oleh kelompok tani PLKSDA – BM yang ditanami manga garifta. Jadi ketika suatu hari nanti sudah menjadi agrowisata, orang yang masuk Desa Bantarwaru akan disambut oleh pemandangan pohon manga penuh warna di kanan jalan, dan kiri jalan oleh area persawahan yang sudah dibuat terasiring. Kalau jadi, nantinya akan dibuat jalan masuk ke area 5 Ha itu, baik untuk motor maupun mobil.

Desa Bantarwaru dibagi menjadi empat dukuh yang saling terpisahkan oleh area persawahan, tetapi polanya tetap sama, berada di pinggir Sungai Cipamali. Dukuh yang menyambut kita pertama kali adalah dukuh Bantarwaru, dukuh paling padat, letak pemerintahan desa, dan letak agrowisata mangga nantinya. Dukuh lainnya yaitu Dukuh Karangsari, Dukuh Bangkong, dan Dukuh Karanganyar. Uniknya, Desa Bantarwaru termasuk desa di Jawa Tengah yang menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari, kecuali Dukuh Bangkong yang menggunakan Bahasa Jawa ngapak, sebagaimana Bahasa masyarakat Brebes pada umumnya.

Pohon Mangga di Setiap Halaman Rumah
Saya tertarik dengan ungkapan yang disampaikan oleh Pak Husen, salah seorang perangkat desa yang juga anggota kelompok tani PLKSDA-BM, pada saat menghadiri salah satu sosialisasi yang kami adakan waktu KKN beliau menyampaikan kurang lebih seperti ini :

Dulu, sekitar 20 tahun yang lalu kita masih anak-anak pada ngambilin buah mangga –mencuri-, sekarang setiap rumah punya pohon manga jadi udah nggak ada yang namanya orang nyuri mangga di Bantarwaru. Cuman ini buah mangga garifta, masih ada yang ngambil, karena penasaran atau cuma sekedar pengen ngerasain. Tapi sekarang udah tahu cara nyambung mangga garifta jadi tiap rumah bisa nanam sendiri di pekarangannya masing-masing. Kalau pada punya sendiri-sendiri di rumah, nggak ada lagi yang nyuri.

Memang setiap pinggir jalan dan setiap halaman rumah warga ditanami pohon mangga, sepengetahuan saya memang tidak ada yang tidak punya. Varietas mangganya juga bervariasi, mangga golek, arumanis, mangga manalagi, mangga kuweni, dan lainnya. Ketika saya mewawancarai salah seorang warga yang juga merupakan ketua RT mengenai buah mangga setelah panen dikemanakan, beliau menjawab akan ada orang –pengepul- yang datang ke desa untuk membeli buah mangga, saya lupa berapa harga yang ditawarkan oleh pengepul tersebut. Tetapi seingat saya, dari satu pohon mangga bisa mendapat uang Rp 600.000. Tentunya harga beli langsung dari pohonnya seperti itu lebih murah dibanding harga jual ditoko buah atau dipinggir jalan. Lebih baik memang warga yang memiliki pohon mangga menjual mangganya sendiri di pasar, memberikan penawaran sesuai harga pasar. Tentu keuntungannya lebih besar. Menurut saya begitu.

Hal yang saya rekomendasikan adalah mengunjungi Desa Bantarwaru saat panen mangga tiba. Sebenarnya sekarang ini beberapa pohon mangga sudah ada yang bisa dipanen, tapi kira-kira bulan Oktober – November akan menjadi puncaknya. Saya sendiri belum tahu keadaannya seperti apa ketika panen mangga, yang jelas setiap rumah akan memiliki stok buah mangga entah dikonsumsi sendiri atau untuk dijual.
Pemandangan Sungai Cipamali dari jalan menuju Dukuh Karangsari
Pemandangan Sungai Cipamali
Sungai Cipamali menjadi keberkahan tersendiri bagi masyarakat Desa Bantarwaru. Sebab ia adalah sumber kehidupan bagi tanaman pertanian yang mereka tanam. Dari hasil tanam itu lalu dijual, uangnya untuk kebutuhan sehari-hari. Tak hanya berfungsi sebagai irigasi, Sungai Cipamali juga memiliki keindahan yang luar biasa bila disaksikan dari atas. Sayangnya sungai ini tidak menjadi objek wisata, atau belum menjadi. Semoga seiring berjalannya waktu masyarakat dapat menggali potensinya.

Pemandangan Sungai Cipamali dapat kita nikmati keindahannya dari Dukuh Karangsari. Berbeda dengan Dukuh Bantarwaru, antara sungai dengan lahan pertanian tidak begitu tinggi, oleh sebab itu lahan pertaniannya lebih basah karena sering disiram. Lahan di Dusun Karangsari sudah mulai ditanami bawang merah dan ada juga yang ditanami padi. Beberapa waktu lalu petani di Bantarwaru mengalami gagal panen padi akibat kemarau berpanjangan. Bahkan saat ini pun belum ada tanda-tanda hujan. Padahal wilayah Purwokerto tempat saya tinggal sering hujan da hampir setiap hari mendung.

Viral : Jembatan BAPER
Setelah berjalan-jalan di Dukuh Karangsari, lurus sedikit kita akan berada di Dusun Bangkong dan Dusun Karanganyar. Letak kedua dusun ini berada di kiri dan kanan jalan. Mengenai Dusun Bangkong sudah sedikit saya ulas di atas, bahwa dusun ini mayoritas penduduknya adalah orang jawa dan berbahasa jawa. Kata Pak Wahyudin, mantan kades yang sempat saya sambangi rumah beliau, bercerita bahwa Bagkong berasal dari Bahasa Sunda yang artinya katak besar. Memang ada batu yang menyerupai katak di dusun ini, dan itu dikeramatkan oleh sebagian warga dusun, itulah kenapa dusun ini dinamai Dusun Bangkong. Setelah melewati Dusun Bangkong, beberapa menit kemudian kita akan melewati jembatan yang menjajakan pemandangan sangat indah, jembatan BAPER namanya. Sekilas bikin kita bawa perasaan, apakah ada kisah-kisah romantisme di jembatan ini? Apakah berbau mistis?
Pemandangan dari Jembatan BAPER (Bangkong-Pengarasan)

BAPER sebenarnya adalah akronim dari dua nama Bangkong – Pengarasan, sebuah jembatan yang menghubungkan kedua desa. Jembatan ini termasuk bangunan baru, sebelumnya tidak ada jembatan di sana. Jadi untuk menuju Desa Pengarasan harus menyeberangi sungai dengan perahu. Atau jika membawa kendaraan harus memutar jauh dari Desa Bangbayang sekitar 25 menit. Kata Pak Wahyudin, kebetulan pembangunan Jembatan BAPER ini terjadi di masa beliau menjabat dan sempat ada protes dari tukang perahu. Karena mata pencaharian mereka akan hilang dengan adanya pembangunan jembatan. Tetapi akhirnya mereka menerima. Kan maslahat akan lebih besar ketika jembatan itu di bangun.

Setiap hari Minggu pagi, Jembatan BAPER ini ramai dikunjungi warga. Banyak penjual makanan sarapan maupun cemilan tradisional seperti cenil dan getuk. Ada juga nasi jangung, benar-benar nasi dari beras dicampur jagung. Tentunya bikin nagih apalagi dicampur urap, ikan asin dan sambal. Saya menyarankan untuk datang pagi-pagi sekali, agar dapat menikmati sunrise dihiasi pemandangan sungai dan perbukitan. Mungkin Jembatan BAPER ini kedepannya dapat dijadikan destinasi wisata yang dapat memberikan kontribusi bagi desa. Tukang perahu mungkin juga dapat kembali mengoperasikan perahunya, tetapi bukan dalam rangka penyebarangan sungai, melainkan untuk wahana wisata sungai.

Sedikit Mengenai Warga Desa Bantarwaru
Saya sangat senang, melihat warga yang sedang duduk-duduk di teras, antusias menyambut kedatangan kami. Anak-anak pun sering memanggil kami “kakak” ketika kami berpas-pasan, atau sekedar mengajak kami untuk bermain bersama mereka. Warga desa yang masih memiliki simpati, empati yang tinggi, dan suka memberi. Ketika mengerjakan program kerja di luar, pulang-pulang kami membawa oleh-oleh berupa singkong, jagung, pisang, hingga kelapa hasil dari pemberian warga yang mayoritas bekerja sebagai petani.

Ya begitulah keindahan Desa Bantarwaru, tak hanya indah pemandangan alamnya, tetapi juga indah pemandangan sosialnya. Sampai jumpa di Bantarwaru!