Maju Mundur Islam di Eropa
Kejayaan Islam di Eropa sebenarnya pernah mencapai puncaknya sebelum pada akhirnya mengalami kemunduran yang cukup parah. Hal itu terjadi sejak pasukan Islam kalah dalam peperangan.
Pertama kali dalam sejarah, kaum Muslimin memasuki daratan Eropa ketika Thariq bin Ziyad bersama pasukannya menyeberangi Selat Gilbraltar untuk menguasai Andalusia (Spanyol). Sampai pada akhirnya Charles Martel mengalahkan pasukan Islam di Poiters (Prancis).
Pada abad pertengahan, Eropa sedang berada pada krisis budaya dan ekonomi, sedangkan Islam berada pada puncaknya. Ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan budaya dari dunia Islam cukup memberikan pengaruh pada Eropa.
Namun, abad ketujuh belas menunjukkan sebaliknya. Pasukan Islam kalah perang. Pada tahun 1699, Turki Utsmani terpaksa harus menandatangani Perjanjian Karlowitz. Perjanjian tersebut berisi penyerahan Hongaria, Slovenia, Kroasia, dan Transyvalnia kepada Austria, Podolia kepada Polandia, dan daerah Azov kepada Rusia.
Pasca berbagai kemenangan atas kaum Muslimin, kekuatan Eropa perlahan melampaui dunia Islam di segala bidang. Eropa mulai ekspansi ke negeri Muslim dan menguasai wilayah mereka baik secara langsung maupun tidak langsung.
Hingga Perang Dunia II berakhir, Eropa mulai melepaskan pengaruhnya di dunia Islam. Dari sini dimulai pola hubungan baru Islam-Eropa. Pola hubungan ini dijelaskan oleh Lorenzo G. Vidino dalam bukunya The New Muslim Brotherhood in the West.
Negara-negara Muslim pasca Perang Dunia II ramai bermigrasi ke Eropa. Bukan lagi berniat menjadi penakhluk, melainkan menjadi tenaga kerja murah. Hal ini dapat dilihat dari sejumlah besar orang Aljazair, Tunisia, dan Maroko yang bekerja di Prancis; orang Pakistan dan India bekerja di Inggris; dan orang-orang Turki di Jerman.
Migrasi menjadi solusi sementara yang saling menguntungkan antara dunia Islam dan Barat sebagai solusi masalah ekonomi pasca perang. Orang Eropa berasumsi kaum Muslimin hanya akan tinggal beberapa tahun, begitu sebaliknya kaum Muslimin awalnya berencana menggunakan hasil kerja kerasnya untuk membangun kehidupan yang layak di negara asalnya. Kaum Muslimin pun membatasi aktivitas keagamaan di masjid-masjid darurat. Hal ini membuat para ahli menyebutnya sebagai “cellar Islam” dan membuat kehadiran Islam menjadi tidak terlihat di Eropa.
Situasi berubah ketika tahun 1974 terjadi krisis minyak. Eropa melarang masuk imigran baru. Tetapi di sisi lain undang-undang reunifikasi keluarga berlaku di seluruh Eropa dan mengizinkan para pekerja migran bergabung dengan keluarga mereka. Alih-alih kembali ke negara asal, mereka memilih menetap secara permanen. Sejak saat itu populasi kaum Muslimin terus berkembang, ditambah gelombang para pencari suaka dari timur tengah. Hal tersebut menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di Eropa.
