Ketika Allah Mencabut Kenikmatan Nonton Anime
Awalnya saya berharap ketika weekend atau hari libur saya bisa beli nasi bungkus untuk dimakan di kosan sambil nonton anime, tapi kenyataanya.. Tidak bisa!
Bukan karena weekend saya ada pekerjaan atau apa, tapi memang karena tidak bisa. Sebenarnya lebih kepada tidak punya sense untuk nonton. Saya coba buka situs langganan nonton anime, pada kenyataannya saya hanya klak klik thumbnail, nonton salah satu episode, tapi selesai openings saya tutup lagi. Ya karena tidak ada sense tadi. Sempat berfikir apakah karena anime yang terbit di musim ini tidak menarik atau bagaimana. Tapi ketika melihat beberapa teman mereka masih nyaman-nyaman saja nonton anime. Kemudian saya coba untuk menonton film dan drama, pada kenyataannya rasanya sama saja. Saya tidak memiliki perasaan senang melakukan itu semua. Padahal saya adalah pengguna metode marathon untuk nonton video berseri.
Ketika menyadari ada keanehan, saya mencoba untuk berkontemplasi, apa yang sebenarnya terjadi. Saya mencoba untuk mencari-cari alasan dan berfikir hingga merujuk pada satu dugaan, apakah Allah telah mencabut kenikmatan nonton anime?
Ya sebenarnya nggak ada masalah sih, karena ketika saya mencoba berprasangka baik pada Allah, pasti Dia telah menggantikannya dengan nikmat lain yang lebih baik. Mungkin saya saja yang belum mampu mensyukuri nikmat itu. Terlebih nonton anime adalah kegiatan hiburan yang berpotensi melalaikan. Selama Allah tidak mencabut kenikmatan dalam ibadah, dalam sholat, dalam membaca Al Quran, dalam menuntut ilmu menurut saya tidak ada masalah.
Saya tidak bisa membayangkan jika sholat menjadi suatu kegiatan yang tidak menyenangkan, membaca Al Quran menjadi suatu kegiatan yang membosankan, dan menuntut ilmu harus butuh banyak alasan. Nudzubillah min Dzalik.



