“Pak
Nawan, petani kan panennya musiman, buat kebutuhan sehari-hari dari mana?”
Sebuah
pertanyaan yang sudah saya siapkan sebelum berangkat ke Desa Bantarwaru pada
siang itu. Sebelumnya saya sedikit berdiskusi dengan Ir. Supartoto di LPPM
Unsoed membahas beberapa hal mengenai hasil KKN kemarin. Termasuk tentang
keheranan saya mengenai penghasilan petani di Bantarwaru yang tetap memenuhi
kebutuhan sehari-hari seperti biasa, padahal penghasilan mereka ditentukan pada
waktu panen saja. Satu pertanyaan itu lantas saya tanyakan kepada Pak Nawan.
Tentang Pak Nawan
Beliau
bisa dibilang adalah seorang guru selama saya KKN di Desa Bantarwaru. Banyak
pelajaran yang dapat saya ambil dari beliau, selain terkait masalah pertanian,
juga tentang kehidupan. Kebetulan beliau adalah salah satu pengurus Kelompok
Tani PLKSDA- BM, jadi bersama beliaulah setiap harinya kami melaksanakan beberapa
program kerja KKN. Kalau dipikir-pikir memang selama ini yang mengerjakan
progam kerja adalah Pak Nawan, kita hanya membantu. Hehe
Beliau
orang Jawa Timur, Bojonegoro dan tinggal di Bantarwaru karena menikah dengan
istrinya. Kata beliau awalnya tidak pernah megang cangkul atau arit, Cuma sejak
di Bantarwaru beliau jadi petani. Alhamdulillah, katanya. Saya suka tinggal di
Bantarwaru. Awalnya beliau merantau di Jakarta sendirian sampai akhirnya
bertemu dengan Ibu Teteh, warga Desa Bantarwaru. Hingga sekarang Pak Nawan
aktif bertani dan memimpin beberapa kelompok masyarakat, lahannya yang ada dibelakang rumah lumayan luas, sampai tidak
keurus, keteteran katanya. Belum lagi kebun yang berada di sana, tempat kami
mengambil kelapa muda.
Seminggu
setelah penarikan KKN, saya kembali lagi ke Bantarwaru untuk suatu urusan. Lalu
saya sempatkan untuk mengunjungi Pak Nawan di rumahnya, kebetulan beliau baru
datang dari Bojonegoro. Waktu kami mau selesai KKN, sebetulnya Pak Nawan ini
juga pamit mau pulang kampung dulu.
Diskusi Senja
Bersama Pak Nawan
Sore
itu sekitar pukul 15.45, di ruang tamu kami mengobrol. Tumben saya tidak
dikasih unjukan, biasanya dikasih.
Beliau duduk sambil merokok, tapi saya tidak ditawari, karena beliau tahu saya
tidak merokok.
“Pak
Nawan, jadinya kapan irigasinya dipakai?” saya menanyakan terkait kelanjutan
irigasi yang sudah kami kerjakan dulu, karena sudah selesai tapi belum juga
dipakai untuk menyiram tanaman.
“InsyaAllah
hari minggu mau saya kumpulin anggota buat bahas pembagian nyiramna” jawaban
dengan logat khas jawa timuran tapi kecampur sunda Bantarwaru.
“Secepatnya
ya pak, biar nanti sekalian lahan yang belum dapat air, bisa ditentukan kapan
beli dan masang peralonnya.”
“Iya.
Nanti yang belum dapat air, uang iurannya ditabung dulu, kira-kira kalau
harganya 500rb, 10 bulan udah bisa beli peralon baru” ngomong-ngomong iuran
untuk irigasi tiap bulannya anggota ditarik Rp 5000.”
“Oh
ya pak, saya mau nanya, petani kan panennya musiman, buat kebutuhan sehari-hari
dari mana?”
“Ya
kalau di Bantarwaru ini ya kebanyakan yang laki-laki merantau, terus uangnya
dikirim ke rumah. Itu yang dipakai buat kebutuhan sehari-hari. Kalau saya ya,
kebetulan istri buka toko depan rumah, jadi dari situ yang dipakai buat
kebutuhan sehari-hari. Kalau nggak gitu ya pusing, tiap harinya uang dari mana.
Ada juga yang ngutang ke toko, sampai nunggak dua juta, terus yang merantau
pulang, uangnya dipakai buat bayar hutang.”
“Tapi
ya Pak, kata Pak Toto, petani disarankan nanam sayuran juga. Soalnya sayuran
itu kan panennya cepet. Misal kacang panjang itu bisa panen setelah 45 hari ditanam
tiap tiga hari sekali bisa panen. Jadi dapet kan penghasilan harian.”
“Iya,
kayak gitu harusnya. Saya baru-baru ini juga coba-coba nanam sayuran di depan
rumah pakai polybag, dulu mah nggak ada tanaman di depan rumah.”
“Terus
hidup di desa juga nggak begitu pusing mikirin makan ya pak, apa-apa tinggal
ambil di kebun. Menurut saya orang desa itu cukup tahan terhadap gejolak
perekonomian, Pak."
“Jujur
saya merasa tenang sejak jadi petani. Beda dulu waktu di Jakarta, jualan.
Dikejar-kejar target penjualan. Mikirin uang sewa tempat, dipikirin terus. Ya
kalau yang beli rame, kadang-kadang sepi. Kalau di desa jadi petani gini ya santuy.
Pas cabe mahal kan saya nggak pernah beli, soalnya di kebun ada tinggal ambil.”
“Saya
kemarin diskusi sama temen-temen KKN yang pertanian, pertanyaannya juga sama,
petani dapat uang pas panen, terus pas lagi nunggu panen dapat uang dari mana.
Jawabannya ada di PERTANIAN TERPADU. Jadi selain nanam juga pelihara ternak,
sapi, kambing, ayam. Kalau Ayam kan bisa dijual daging atau telurnya,
kotorannya dijadiin pupuk, terus bikin kolam lele juga bisa. Makanya saya kagum
di lahan mangga itu dibangun kolam lele. Jadi petani kalau pas lagi nunggu
panen palawija, bisa panen sayuran, bisa panen lele, bisa jual ternak.
Pemasukannya banyak, tergantung pengen seberapa banyak mau cari untung. Tapi ya
itu usahanya kudu keras.”
“Saya
juga sudah gitu, Mas. Cuman jarang petani yang kayak gitu. Punya uangnya pas
panen doang. Ini rumah saya kalau panen jagung penuh sama karung. Kalau panen
padi, saya bisa punya beras selama setahun. Ini lahan saya yang di belakang
rumah kan saya kuwalahan.”
“Lah
emang beras bisa tahan lama apa, Pak?”
“Enggak,
jadi disimpennya masih dalam bentuk gabah, kalau beras habis tinggal diselep
jadi beras. Kadang juga tetangga pada minjem. Dibalikinnya pas udah panen.
Gabah, dibalikin pakai gabah.”
“Emang
kalau panen gitu, dijual berapa, Pak?”
“Ya
kalau gabah paling 4000, kalau udah jadi beras 7000.”
“Kalau
ternak sapi gitu bisa dijual kapan, Pak?”
“Ya
tergantung, mau penggemukan atau budidaya. Kalau penggemukan belinya yang
jantan, 7 bulan udah bisa dijual dapat 10 juta.”
“Itu
belinya berapa kalau penggemukan 5 juta. Kalau mau nggak repot mah, bisa minta
orang buat ngerawat. Jadi perjanjiannya 50-50 dari keuntungan. Misal beli sapi
kecil harga 5 juta, penggemukan, dijual laku 10 juta, untung 5 juta kan. Yang 5
juta balik modal saya, 5 juta keuntungannya dibagi dua. Lumayan kan.”
“Iya
ya, Pak. Daripada anak muda sini pada merantau, mending dikasih kerjaan kayak
gitu. Tapi kan ya sapinya perlu banyak ya. Ya ibaratnya beli sapi tiap bulan
buat penggemukan, nanti jualnya juga tiap bulan, udah dapat penghasilan
bulanan. Tapi kok belum ada yang kayak gitu ya. Btw, Pak Nawan punya tabungan
nggak?”
“Ya
punya, itu sapi tabungan saya.”
“Oo
gitu ya, bagus juga tabungan berupa hewan. Tiap waktu nambah berat badan,
nambah keuntungan. Jadi tabungan nambah tanpa pakai bunga.”
“Pak
Nawan nggak nanam albasia (sengon)?”
“Saya
nanam tuh di kebon yang sebelah sana. Itu juga buat tabungan. Wah kalau dijual
itu bisa sampai 2 juta satu pohonnya.”
“Mantap.
Semua petani harusnya gitu lah, Pak. Kebanyakan abis panen, lahannya kosong,
sambil nunggu nanam yang lain lagi. Jadi mereka penghasilannya musiman. Coba kalau sebagian ditanami albasia, kalau butuh uang nanti bisa nebang beberapa, sebagian lagi ditanami palawija, dapat kan penghasilan tiap catur wulan, dan sebagian lagi ditanami sayuran, dapat tuh penghasilan bulanan. belum lagi melihara ternak sama budidaya ikan. Sebenernya saya dikosan juga nanam pak,
Kaktus. Hehe. Udah punya empat sekarang. Rencana mau nanam mint nih. Cuma ya
buat konsumsi sendiri.”
“Ya
kalau bisa ya nggak dikonsumsi sendiri, bisa dijual.”
“Nggak
sempet mikir yang begituan, Pak.”
“Dulu
tuh pernah dikasih bantuan Jahe Merah dua ton.”
“Waduh,
satu truck penuh dong, Pak.”
“Iya
satu truck itu. Tapi petani di sini pada nggak siap buat nanam, jadi ya
gagal panen. Padahal enak itu nanam Jahe Merah. Dia tumbuh jahenya kan ke atas. Jadi
kalau udah kelihatan tumbuh tinggal
diurug lagi, terus gitu sampai penuh.”
“Saya
dulu juga sempet kepikiran nanam jahe merah di polybag, Pak waktu SMA.”
“Pakai
polybag juga bagus. Itu saya masih punya jahe merah di kebon.”
“Kapan-kapan
deh Pak kalau ke sini lagi saya minta buat ditanam di kosan. Nantis saya pulang
habis magrib.”
Lalu..
“Hehe..”
kita ketawa bareng.
Sebenarnya
masih ada banyak hal yang kami bahas pada sore itu. Hingga tidak terasa waktu
sudah menunjukkan pukul 17.30, artinya sudah mau maghrib. Saya pun berpamitan
pada Pak Nawan dan Ibu Teteh, karena akan kembali ke Purwokerto.
Membawa Sebuah
Mimpi
Saya
pulang dari Bantarwaru dengan membawa mimpi-mimpi sederhana, ya bercocok tanam
denganmu. Kita beli lahan dekat rumah, menanam albasia, jati, pohon pisang,
ketela, palawija, pohon mangga, ternak sapi, kambing, ayam, dan tak lupa punya kolam
lele. Pagi-pagi kita ke sawah juga urus ternak, sampai siang. Sorenya ngajar ngaji sampai
malam. Ah! Sesederhana itu menjalani kehidupan sebagai seorang petani.
Tentunya
tak semudah itu kan ya.