Inspirasi dari Bumi Manusia: Naik Delman di Hindia Belanda
Romantisme masa lalu, entah kenapa dulu kita pernah menyusuri jalan Surabaya - Wonokromo bersama. Aku yang mengajak atau kau?
Romantisme masa lalu, entah kenapa dulu kita pernah menyusuri jalan Surabaya - Wonokromo bersama. Aku yang mengajak atau kau?
Aku bangga setelah kau dipersunting oleh Pangeran dari Schewerin, dengan anggun berdiri di hadapan parlemen, membagikan sedikit kebahagiaan.
Pagi itu aku berlari mengejar waktu pukul tujuh. Terlalu pagi memang untuk mengirim sebuah surat ke kantor pos. Bukankah semakin pagi akan semakin cepat dikirim (?) atau sama saja?
Aku adalah seorang laki-laki. Saat aku menulis ini, umurku belum genap 19 tahun, butuh beberapa bulan lagi untuk menggenapkannya. Tapi anggap saja umurku 18 tahun. Selangkah lagi untuk tidak disebut anak-anak berdasarkan UU Perkawinan.
Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, jurusan Sastra Indonesia, semester 2. Walaupun aku mahasiswa sastra, aku juga belajar Ilmu Hukum, Politik, dan sedikit Ilmu Ekonomi. Beberapa buku terkait itu sudah aku koleksi, di perpustakaan pribadi yang saat ini kurang lebih ada 700 buku termasuk buku-buku sastra, filsafat, sejarah, dan beberapa buku Islamis, Marxis, dan Liberal.
Sejak awal mahasiswa baru, aku didoktrin oleh kakak tingkat di berbagai acara, bahwa kuliah itu tidak hanya sekedar kuliah pulang - kuliah pulang, tetapi juga berorganisasi baik internal maupun eksternal kampus. Oleh karena itu aku ikut beberapa unit kegiatan mahasiswa, salah satunya Lembaga Dakwah Fakultas (LDF).
Ada beberapa alasan kenapa aku memilih LDF, salah duanya aku ingin memperbaiki diri, dan melanjutkan belajar ilmu agama yang sudah lama berhenti sejak SMA. Setidaknya aku sudah memiliki dasar membaca Al quran dengan tartil dan beberapa juz hafalan yang aku capai ketika MTs. Tapi, karena kesibukan dan kebanyakan main, jadi beberapa tahun belakangan ini tidak lagi tilawah one day one juz, dan bahkan hafalan banyak yang hilang. Astagfirullah.
Selain hobi membaca dan aktif berorganisasi, aku juga suka bermain musik. Beberapa alat musik seperti gitar, bass, piano, keyboard, dan ukelele. Tetapi hanya gitar, keyboard, dan ukelele yang ada di kos-kosan. Tak jarang juga, selain menulis karya sastra aku juga menulis lagu, dan paling banyak lagu tentang cinta. Tapi untuk hobi yang satu ini aku tidak terlalu memamerkannya. Karena aku pernah dengar ustadz yang mengatakan bahwa musik itu haram. Walaupun aku tidak sepakat secara keseluruhan. Tapi ini untuk menjaga ketertiban, daripada harus berdebat dalam perbedaan yang sifatnya furu'. Tetap sikapku tidak mengharamkan secara mutlak, juga tidak membebaskan sebebas-bebasnya. Ada batasan dalam bermusik.
Sejak SMA aku sudah berpacaran dengan seorang wanita yang menurutku cantik, berambut lurus sebahu, dan berponi. Lumayan putih, aku kira dia ada keturunan chinese, tapi ternyata jawa-sunda. Ibunya orang Bandung, dan ayahnya orang Semarang . Kadang dia pakai kacamata. Kalau kamu tanya dia mirip siapa, dia mirip Ploynarin, artis muda asal Thailand.
Dia adik kelas, beda satu tahun denganku. Berarti waktu aku kelas 12 dia masih kelas 10. Sekarang dia kelas 11, IPA 2. Bercita-cita menjadi dokter spesialis anak, katanya. Dia bilang ingin satu kampus denganku, tapi beda fakuktas, di kedokteran. Semoga tercapai.
Aku sangat sayang padanya, apalagi saat sifat manjanya keluar dan minta dijitak. Childish, lebay, cemburuan, dan tidak mau kalah. Wajar, dia berasal dari keluarga kelas atas. Ibunya dokter spesialis bedah, dan ayahnya seorang hakim di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Semarang. Waktu SMA dia sering diantar jemput pakai mobil. Kadang juga dia bawa mobil sendiri ke sekolah, saat ada acara ekstrakurikuler. Tapi dia tidak sombong. Mau berteman dengan siapa saja, tanpa melihat status sosial.
Tapi jangan harap aku akan memperkenalkan dia, aku tahu, jika ku sebut namanya di sini, kalian akan kepo, cari di instagram, facebook, atau jalan terakhir mesin pencarian google. Bagi kaum laki-laki, aku tak mau kalian mengganggunya, karena jelas, she is mine. Bagi kalian kaum perempuan, nanti kalian akan iri dan cemburu.
Sekarang aku sudah berpacaran dengannya hampir 2 tahun. Walaupun demikian, dinamika dalam hubungan tetap ada. Kadang marahan, terus baikan. Ya begitulah. Kamu pasti juga pernah merasakan bagaimana situasinya, masa SMA.
Aku rasa, perkenalan kita cukup sampai di sini. Selebihnya kamu akan tahu ketika membaca cerita-ceritaku selanjutnya.
Salam kenal
Namaku, Ikhwan
Note:
Cerpen ini untuk pertama kalinya diterbitkan di LINE pada 25 Januari 2019. Diterbitkan ulang di Catatan Rugasu agar dapat dibaca semua orang.
Waalaikumsalam,
Maaf, lama membalas pesan darimu. Aku tak tahu harus bagaimana ketika pertama membaca pesan itu. Aku sedih, menangis, dan bingung. Aku butuh waktu untuk memikirkan bagaimana sikap yang harus ku ambil atas keputusanmu.
Di hari ke lima Ramadhan ini, aku telah mencoba melawan benci terhadapmu, selama itu juga aku berusaha berpuasa, tilawah, dan sholat malam dengan mengharap pahala dari Allah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku.
Aku paham bahwa keinginanmu untuk menjadi seorang hamba sebenar-benarnya hamba adalah keinginan yang terbaik. Aku pun ikut senang dan bangga, mencintai seseorang yang mencintai pencipta-Nya, rajin beribadah, apalagi jika pandai membaca dan menghafal quran.
Tapi tahu kah kamu, aku sakit. Aku terluka. Aku belum siap menerima keputusan ini. Aku takut sendiri. Takut kesepian. Takut ketika tidak ada lagi panggilan sayang, tidak ada lagi ucapan selamat malam, selamat tidur, dan semoga mimpi indah. Atau kamu berdoa agar kita bertemu dalam mimpi.
Tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk bangun tahajjud, atau bangun sahur pada malam senin dan kamis. Tidak ada lagi saat-saat di mana kita duduk berdua dalam kereta. Saat kamu menunjukkanku pemandangan pantai dari balik jendela kaca, itu adalah pengalaman pertama naik kereta terindah. Sepanjang perjalanan sambil minum teh, kita berbicara tentang keluargamu, cita-citamu, dan tentang mimpi-mimpi yang kita bangun bersama.
Aku rindu semua itu. Dan aku ingin menikmati masa-masa itu lagi bersamamu. Aku tidak ingin semuanya hilang begitu saja, hanya tersisa foto - foto dan beberapa pernak-pernik yang kita beli di obyek wisata. Bahkan itu semua hampir saja aku bakar, jika bukan karena aku tak ingin kehilangan semua tentangmu.
Jika seandainya kita masih pacaran, mungkin ramadhan kita hiasi dengan tarawih bersama, kamu memperdengarkan bacaan quranmu dan membacakan surat Ar-Rahman, atau mungkin juga kamu menyimak bacaan quranku yang masih belum sempurna dalam tajwid, dan benar juga kamu menjadi imam sholat tarawih di rumahku.
Aku mencoba membayangkan bagaimana lebaran tanpamu, bagaimana aku menjawab bertanyaan ibu, jika ia menanyakan kenapa kamu tidak datang seperti lebaran sebelumnya. Itu berat, aku tidak kuat.
Ku harap kamu bisa mempertimbangkan keputusan itu lagi. Bukankah menyakiti perasaan wanita itu dosa? Apakah kamu pernah menyakiti hati ibumu? Bagaimana perasaan ibu ketika sakit hatinya? Mungkin kamu bisa menanyakan kepadanya terlebih dahulu, lalu kembalilah.
Seseorang yang terluka,
Assalamu’alaikum
Note:
Cerpen ini untuk pertama kalinya diterbitkan di LINE pada 21 Mei 2018. Diterbitkan ulang di Catatan Rugasu agar dapat dibaca semua orang.
Assalamualaikum, sayang.
Afwan. Ramadhan tinggal menghitung jam. Kamu tahu jika Ramadhan adalah bulan yang penuh hikmah dan maghfirah. Allah akan mengampuni setiap orang beriman yang berpuasa dengan mengharap pahala dari-Nya.
Waktu-waktu yang telah kita jalani bersama, aku rasa cukup sampai di sini. Aku merasa diri ini penuh dosa, aku ingin Allah mengampuninya.
Aku ingin fokus, berjuang di siang hari, kuliah seperti biasa, menghiasinya dengan tilawah di setiap jedanya.
Aku ingin fokus, iktikaf di setiap malamnya, menjadi rahib yang selalu menangis di setiap sujud dalam untaian doa.
Sayang, aku mencintaimu dalam koridor diri sebagai manusia biasa. Tetapi aku mencintai-Nya sebagai seorang hamba, yang seharusnya menaati setiap perintah dan menjauhi setiap larangan
Sayang, menjadi seorang hamba adalah kemuliaan bagi manusia, sebagaimana Muhammad, Isa, Musa, Ibrahim, dan manusia - manusia sebelumnya.
Sayang, maafkan aku. Putus adalah hal yang mungkin paling kamu benci. Tapi hal yang kamu benci belum tentu buruk bagimu. Bisa jadi ini adalah keputusan yang terbaik.
Baik untukmu, juga baik untukku. Bukankah seseorang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik?
Sayang, ini bukan keputusan yang tergesa-gesa, melainkan telah aku pikirkan matang-matang, sejak dahulu.
Aku tahu, kamu akan rindu. Di malam hari sebelum tidur, aku selalu mengingatkanmu untuk bangun pukul 3, melaksanakan tahajjud, atau untuk makan sahur setiap malam senin dan kamis.
Atau, ketika aku bertanya kamu sudah makan apa belum, lagi apa, atau mengajakmu untuk jalan-jalan naik kereta. Atau hal-hal lain, yang tak dapat ku sebut satu-persatu di sini.
Sayang, maaf, kita putus. Di awal Ramadhan yang seharusnya kita bisa berbuka puasa bersama atau aku menjadi imam sholat tarawih di rumahmu, berjamaah bersama keluargamu.
Sayang, maaf, aku pergi. Menjauh, dari cinta yang belum saatnya, dari hubungan yang tak diridhai-Nya.
Suatu hari nanti, jika Allah memang telah takdirkan kita bersama, maka kita akan bersama. Tak ada yang sulit bagi Allah. Atau walaupun kita tetap bersama, jika Allah takdirkan kita tak bersama, akhirnya juga akan berpisah.
Sayang, mulai dari akhir kata ini, aku tidak lagi memanggilmu sayang, aku harap kamu paham terhadap apa yang telah aku pahami dan menerima apa yang telah aku putuskan.
Afwan,
Dari seseorang yang ingin hijrah
Assalamu’alaikum
Note:
Cerpen ini untuk pertama kalinya diterbitkan di LINE pada 16 Mei 2018. Diterbitkan ulang di Catatan Rugasu agar dapat dibaca semua orang.