KolaborAksi Bersama Dompet Dhuafa: Mewujudkan Zakat 30 Hari Jadi Manfaat Untuk Umat

Februari 2020 mungkin menjadi bulan terberat bagi Mas Roy. Wajahnya kusam, berminyak dan berjerawat, badan pun kurus, dan sulit untuk tidur. Mungkin ini tanda kondisi emosional maupun hormonalnya sedang tidak baik-baik saja. 


Orang terdekat Mas Roy paham betul, ia cukup stres dalam menjalani amanah sebagai Presiden BEM di tengah situasi pandemi COVID-19. 


“Ini amanah besar, pertanggungjawaban besar,” ungkap Mas Roy kepada orang terdekatnya.



Foto Mas Roy (bukan nama sebenarnya). Sumber: Youtube BEM Unsoed.

Sebagai orang terdekat Mas Roy, aku merasa kasihan. Saat itu ia bercerita bahwa ia sedang bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan sebagai pemimpin organisasi. Ada ekspektasi besar dari banyak orang terhadap kepemimpinannya.

Hingga beberapa waktu kemudian, ia mendapat informasi Beasiswa Kepemimpinan Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) dari Dompet Dhuafa yang menawarkan pengembangan kepemimpinan. Aku kemudian berkata kepadanya, “Mungkin ini adalah jawaban dari kesulitanmu, Mas.” 

Maka benarlah firman Allah: “Karena beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)



FLC 2020 Bakti Nusa 10 yang dilaksanakan secara daring. Sumber: Dokumen Pribadi

Singkat cerita, Mas Roy terpilih sebagai salah satu penerima manfaat Bakti Nusa. Bersamaan dengan itu, ia mulai bangkit dan mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam menjalankan aktivitas kepemimpinan.

Empat tahun berselang, Mas Roy kini telah lulus dari kuliah dan sudah bekerja. Aku menemuinya di rumah kontrakan dekat kampus yang ia jadikan sebagai kos binaan. Ia bercerita tentang pengalaman-pengalamannya, aktivitas keseharian, serta rencana-rencana yang akan ia kerjakan di masa depan. Namun, bagiku, pengalaman kepemimpinannya adalah bagian yang paling mengesankan.

Kata Mas Roy, interaksi dengan Bakti Nusa dan Dompet Dhuafa telah memberinya inspirasi dalam menjalani kehidupan. Ia lalu lanjut bercerita setelah menyeruput teh panas dari gelas putih berlogo “Muara Cita” favoritnya.



Penyemprotan desinfektan di Pusat Kegiatan Mahasiswa Unsoed bersama Dompet Dhuafa Purwokerto pada 2 Maret 2020. Sumber: Dokumen Pribadi

Bersegeralah Melakukan Kebaikan Apapun Yang Bisa Kamu Lakukan


Sebagai Presiden BEM Universitas, Mas Roy banyak menerima tawaran kerjasama dari berbagai institusi, termasuk Dompet Dhuafa. Kerjasama pertamanya dengan Dompet Dhuafa adalah penyemprotan desinfektan di area kampus.

Ketika masa darurat COVID-19, sebagian besar mahasiswa memilih pulang ke rumah. Bagi sebagian lagi, itu adalah pilihan yang sulit. Mereka lebih memilih bertahan di kos-kosan atau menjalani aktivitasnya di Pusat Kegiatan Mahasiswa. Tak perlu berfikir panjang, tawaran itupun Mas Roy terima dengan senang hati. 

“Apakah kemudian Pusat Kegiatan Mahasiswa aman dari virus? Belum tentu. Ada banyak faktor penyebaran. Tapi bukan berarti kita berpasrah atas keadaan. Lakukanlah kebaikan apapun yang bisa dilakukan, walaupun kecil dan berusahalah untuk responsif.”, ungkap Mas Roy ketika ia mengambil hikmah dari kerjasama perdananya dengan Dompet Dhuafa.

Dalam laporan tahunan, ternyata Dompet Dhuafa bukan hanya sekedar lembaga amil zakat biasa, tetapi juga lembaga yang responsif terhadap berbagai situasi. Pada tahun 2023 misalnya, Disaster Management Center Dompet Dhuafa telah melakukan aktivitas Emergency Respon & Recovery di berbagai macam keadaan seperti kekeringan, konflik, gempa, banjir, kebakaran, dan lain sebagainya yang telah menyasar 235.607 penerima manfaat.

Mas Roy kemudian menambahkan ceritanya, di malam setelah kegiatan penyemprotan, ia sakit demam yang cukup parah. Dua hari kemudian ia harus dirawat inap di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif karena demam berdarah. Walaupun demikian, ia merasa bahagia bisa berbuat baik sebelum sakit. Setidaknya ada bekal jika saat itu harus menghadap Yang Maha Kuasa.


Distribusi Bank Pangan kepada masyarakat sekitar kampus bersama Dompet Dhuafa. Sumber: Youtube BEM Unsoed

KolaborAksi: Membuat Langkah Kecil Menjadi Lebih Berarti


Masih di tahun 2020, Dompet Dhuafa mengajak bekerjasama dalam kegiatan Bank Pangan. Kita tahu, kebijakan social distancing telah menghambat aktivitas perekonomian. Pendapatan masyarakat menjadi berkurang, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor informal. Kondisi ini mendorong Dompet Dhuafa mengajak lembaga yang dipimpin oleh Mas Roy dan juga lembaga lain untuk membantu warga yang mengalami kesulitan.

Kata Mas Roy, ada egoisme dalam caranya berorganisasi. Kebanyakan pengelola organisasi selalu mementingkan programnya sendiri. Akibatnya tidak terlalu berdampak dan kurang memaksimalkan potensi yang ada. Ini dikarenakan cara pandang kepemimpinan yang sempit.

“Ketika Dompet Dhuafa mengajak kerjasama Bank Pangan, saya awalnya sempat menyampaikan, bahwa kami sudah memiliki kegiatan yang serupa khusus masyarakat di sekitar kampus. Tapi kata tim Dompet Dhuafa itu tidak jadi masalah, justru kita bisa berkolaborasi.”

Ternyata benar. Kolaborasi dengan Dompet Dhuafa menghasilkan kemanfaatan lebih luas. Total ada 86 paket sembako yang berhasil disalurkan, tidak hanya di sekitar kampus, melainkan juga masyarakat umum. Isinya pun variatif, tidak hanya bahan makan tetapi juga healty package. Jika kegiatan seperti itu dilakukan sendiri, mungkin tidak akan berdampak luas.

Seringkali zakat disalurkan begitu saja kepada yang berhak. Tentu ini tidak salah. Tapi apabila pengelolaan zakat dilakukan lebih profesional dan kolaboratif, maka dampak yang ditimbulkan akan lebih bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Senyuman dan kebahagiaan dari semua pihak akan dengan mudah didapat.

“Maka untuk kedua kalinya saya belajar dari Dompet Dhuafa bahwa kolaborasi dengan berbagai pihak itu penting untuk mencapai tujuan yang lebih besar.” ungkap Mas Roy.


 Ustadz Ahmad Shonhaji dalam sambutan FLC 2022 Bakti Nusa 11.  Sumber: Youtube Bakti Nusa

Beri Aku Sepuluh Pemuda, Maka Akan Aku Guncangkan Dunia


Ungkapan Ir. Soekarno tentang sepuluh pemuda memang tidak lebih dari sekedar ungkapan metaforis, akan tetapi kenyataannya tesis pemuda sebagai agent of change belum terbantahkan. Di belahan bumi manapun, dari zaman klasik hingga modern, sejarah telah melukiskan bagaimana perubahan sosial selalu dimotori oleh para pemuda.

Ustadz Ahmad Shonhaji dalam setiap acara Bakti Nusa berulangkali menekankan peran strategis para pemuda. Kata beliau, “syubbanul yaum rijalul ghad”, pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan, sehingga akan ada banyak persoalan masa depan yang hanya mampu dipecahkan oleh para pemuda.

Tentu saja landasan historis dan sosiologis peran pemuda ini menjadi latar belakang berdirinya Bakti Nusa. Pemuda aktivis dari berbagai kampus di Indonesia bertemu dan berkumpul, berdialog dan berdiskusi, lalu mereka bersepakat bahwa hidupnya tak hanya untuk diri mereka sendiri. Pertemuan seperti itulah yang memberi kesan tersendiri di hati Mas Roy.


Panitia pelaksana FLC 2022 Bakti Nusa 11 di Desa Sawedari, Muntilan, Magelang. Sumber: Dokumentasi Pribadi

“Aktivitas kita ini dibiayai oleh dana umat.”, ungkapkan seperti itulah yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran Mas Roy dan para penerima manfaat yang lain. Bagaimana tidak, kegiatan Bakti Nusa adalah bagian dari kontribusi zakat yang disalurkan melalui Dompet Dhuafa pada sektor pendidikan.
 
Syaikh Yusuf al Qardhawi dalam Fiqhuz-Zakat menjelaskan bahwa salah satu asnaf (orang yang berhak menerima) zakat adalah fii sabilillah. Dalam perkembangannya, fii sabilillah tidak hanya diartikan sebagai orang yang berperang secara fisik di jalan Allah, melainkan mendirikan pusat kegiatan untuk mendidik pemuda Muslim juga termasuk fii sabilillah. Maka sudah seharusnya setiap penerima manfaat memikirkan kondisi dan solusi keumatan setiap harinya, menjadikan zakat 30 hari jadi manfaat.

Harapannya alumni-alumni Bakti Nusa atau program Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa yang lain kelak akan berjejaring dan berkolaborasi untuk turut menciptakan tatanan masyarakat yang adil dan berdaya. Mereka akan menjadi pemuda-pemuda yang mengguncangkan dunia sebagaimana ungkapan Ir. Soekarno.


Program Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa yang ditujukan untuk para pemuda. Sumber: Dokumen Pribadi.

“Saat ini Alumni Bakti Nusa sedang melanjutkan proses kehidupannya masing-masing. Di antara mereka ada yang sedang berjuang melanjutkan studi, mengembangkan profesi, berwirausaha, menjadi politisi, mendidik generasi, serta melakukan perjuangan kehidupan yang lain. Walau tidak lagi berhimpun di wadah yang sama, saya percaya suatu hari di masa depan, hasil kerja keras mereka akan mempertemukan kita di satu titik yang sama, di titik KolaborAksi.”

Refleksi 31 Tahun Dompet Dhuafa Melayani Masyarakat


Sudah menjadi kebiasaan ketika mengobrol dengan Mas Roy, jadi tidak kenal waktu. Pembicaraan kita tentang banyak hal terutama interaksinya dengan Bakti Nusa, Dompet Dhuafa, dan bagaimana zakat berperan penting di setiap hari dalam kehidupan umat harus terhenti oleh adzan maghrib. Usai sholat maghrib berjamaah, aku berpamitan kepada Mas Roy. Aku sampaikan terima kasih banyak kepadanya, atas insights dan sudah menjadi orang tidak pernah lelah ketika diajak bicara.

Di perjalanan pulang, aku membayangkan betapa besarnya potensi pengelolaan zakat di Indonesia. Satu kewajiban agama itu sangat mampu mengentaskan kemiskinan, menciptakan masyarakat kelas menengah yang berdaya, dan sarana bagi umat untuk saling menanggung beban. Aku berharap mulai di tahun ini, di 31 Tahun Dompet Dhuafa ini, akan ada lebih banyak senyuman dan kolaborasi yang terjadi.

***

Informasi lebih lanjut mengenai Dompet Dhuafa dapat klik di sini.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog 31 Tahun Dompet Dhuafa Melayani Masyarakat