Jauh atau Dekat Tak Ada Kaitannya dengan Pertemuan, Pertemuan Adalah Takdir Tuhan
Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Ternyata yang namanya pertemuan tidak selalu mensyaratkan adanya alasan. Ada banyak hal yang terjadi diluar ekspektasi kita. Betapa banyak janji pertemuan yang kemudian batal karena suatu alasan dari satu pihak. Dan betapa banyak hal-hal yang sudah kita rencanakan tetapi dalam implementasinya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Dari sini kita bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa hasil dari suatu rencana itu berada di luar kendali diri manusia. Di sisi lain, kita juga tidak menafikkan bahwa adanya hukum kausalitas (sebab-akibat). Misalnya pernyataan: siapa yang belajar dengan sungguh-sungguh, maka ia akan mampu mengerjakan soal-soal ujian; kalau janjian jam segini di tempat ini ya pasti ketemu; kalau aku melakukan ini sesuai dengan tahap-tahapannya pasti aku berhasil; kalau kena api ya terbakar; manusia kalau dipotong urat lehernya ya mati; dan lain sebagainya.
Ghazali dan Hukum Kausalitas
Saya jadi ingat jika saya pernah menulis postingan di instagram tentang pemikiran Imam al-Ghazali yang tidak setuju terhadap hukum kausalitas. Hal ini beliau sampaikan di dalam Kitab Thahafut al Falasifah (Kerancuan Filsafat) tepatnya pada masalah yang ketujuhbelas. Imam al-Ghazali berpendapat tidak ada yang namanya hukum kausalitas, atau tidak ada yang namanya sebab akibat. Beliau mengatakan dalam kitabnya bahwa :
"Hubungan antara apa yang diyakini sebagai sebab alami dan akibat adalah tidak mesti (daruri). Tapi masing-masing berdiri sendiri. Ini bukan itu, dan itu bukan ini. Afirmasi terhadap salah satunya tidak mesti afirmasi atas yang lain dan negasi terhadap yang satu tidak mesti negasi pada yang lain. Eksistensi yang satu tidak mengharuskan eksistensi dari yang lain, dan ketiadaan yang satu tidak mengharuskan ketiadaan yang lain. Misalnya pemuasan haus dan minum, kenyang dan makan, pembakaran dan kontak dengan api, cahaya dan terbitnya matahari, kematian dan pemutusan kepala dari tubuh, penyembuhan dan minum obat, cuci perut dan minum obat cuci perut, dan lainnya sebagai pasangan peristiwa yang tampak kasat mata terkait dalam kedokteran, astronomi, kesenian, atau kerajinan."
Menurut beliau, hubungan masing-masing dari dua fenomena tersebut di atas yang terjadi secara beriringan bukanlah disebabkan oleh pada dirinya sendiri. Semua hal itu terjadi sebagai akibat dari takdir Tuhan dan bukan sama sekali terjadi dengan sendirinya secara otomatis. Oleh karena itu Imam al-Ghazali menyatakan bahwa tidak dapat dikatakan bahwa fakta yang terjadi itu sebagai suatu keharusan (dharuri). Seperti tidak harus kok sesuatu yang harusnya terbakar oleh api itu bakal terbakar. Ingat tidak harus, sebab Tuhan mampu menciptakan kenyang tanpa makan, mati tanpa terputusnya leher, tidak terbakar walau dilahap api sebagaimana kisah Nabi Ibrahim.
Lah terus gimana? Jadi ada nggak sih hukum kausalitas itu?
Ya sebenarnya ada. Cuman, pengertian kausalitas dalam Islam sangat berbeda dengan kausalitas yang dipahami dalam dunia Barat. Di sini poinnya. Konsep hukum kausalitas Barat menafikan adanya kekuasaan dan kehendak Tuhan. Dalam arti lain didasarkan atas potensi suatu benda atau usaha manusia saja. Sehingga jika seseorang mempercayai hukum kausalitas dengan definisi ini, maka seolah-olah Tuhan itu tidak ada. Hubungan yang ada antara dua hal yang saling berinteraksi itu adalah hubungan antar makhluk, tanpa adanya intervensi Tuhan. Ini yang sebenarnya ditolak oleh al-Ghazali.
Hukum Kausalitas dalam Islam
Dalam perspektif Islam, faktor di luar diri manusia dan benda itulah yang menentukan hasil akhir dari hukum kausalitas tersebut. Sehingga tepat kiranya pendapat al-Ghazali diletakkan pada posisi ini. Sama halnya kita mengatakan bahwa tidak ada yang namanya kebetulan, semua terjadi atas kehendak Allah. Begitupun persoalan kausalitas, tidak ada yang namanya kausalitas, semua itu sudah menjadi apa yang kita kenal sebagai sunatullah. Allah berkehendak dalam setiap peristiwa yang kita alami termasuk dalam kaitannya dengan pertemuan. Betapa dekatnya kita, mungkin hanya satu kilometer jarak yang memisahkan, jika Allah tidak berkehendak, maka kita tidak akan pernah bisa ketemu. Begitupun sejauh apapun jarak, ratusan bahkan ribuan kilometer jarak yang memisahkan, jika Allah menghendaki bertemu, maka Allah pertemukan.
Sehingga jauh atau dekat tidak ada kaitannya dengan pertemuan, pertemuan adalah takdir Tuhan. Selebihnya tinggal bagaimana kita mengusahakan agar pertemuan-pertemuan itu senantiasa dalam keridhaan-Nya, dalam rangka ketaatan kepada-Nya.