Tulisan ini bukan nukilan kata-kata dari bukunya Munita Yeni yang banyak saya temui di toko-toko buku. Saya sendiri belum pernah membaca bukunya. Tapi rasanya penting membuat judul seperti itu agar menarik bagi mereka yang sedang jatuh.
Saya rasa semua orang pernah jatuh. Sebelum jatuh, biasanya merasakan lelah, tidak fokus, dan oleng. Lelah karena harus terus berlari, misalnya. Siapa yang tidak lelah setelah berlari sekian banyak putaran? Semua orang akan merasakan kelelahan. Terlebih jika orang itu lari sambil menanggung beban yang berat, apalagi beban itu adalah ekspektasi-ekspetasi orang di sekelilingnya; keluarga, pasangan, atau ekspektasi akan masa depan. Beban yang cukup menjengkelkan. Tak terlihat, tapi menguras banyak tenaga untuk menanggungnya. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita pahami ketika sedang jatuh:
Lelah adalah hal yang wajar dan jatuh adalah hal yang sangat mungkin
Ketika seseorang melakukan pekerjaan secara terus menerus tanpa jeda, ia pasti akan merasakan lelah. Maka dari itu perlu membuat jeda; menepi sejenak, duduk di tempat teduh, meluruskan kaki, meregangkan otot-otot, lalu minum beberapa teguk air. Jika ternyata kelelahan itu berujung pada kejatuhan, maka kita perlu memeriksa apakah ada cidera yang membutuhkan obat atau tidak.
Terkadang beberapa orang tidak menyadari cidera yang ia alami. Sebagian yang lain sadar, akan tetapi bersikap acuh. Misalnya ketika orang jatuh itu mengalami luka lebam. Rasanya sakit, tapi tidak begitu meyakinkan; karena tidak keluar darah. Padahal luka lebam adalah luka yang cukup berbahaya. Kita harus tahu soal jenis luka yang semacam ini. Terlebih jika jatuh itu menyebabkan luka terhadap bagian dari kita yang tidak terlihat, misalnya otak, organ-organ pernapasan, atau organ-organ pencernaan. Dibutuhkan medical check up yang menyeluruh untuk mengetahui ada yang sakit atau tidak.
Lalu bagaimana jika yang sakit adalah bagian yang tak dapat dilihat melalui medical check up biasa, seperti jiwa atau mental kita? Tahu-tahu ada yang terasa aneh dalam diri kita, tahu-tahu sulit untuk beaktivitas, tahu-tahu kita benar-benar sama seperti orang yang sakit pada umumnya; sakit kepala, jerawat, eskim, sakit perut, lambung, dan sebagainya. Gejala semacam ini kemudian dalam ilmu kedokteran dikenal sebagai gangguan psikosomatis. Jadi, lelah itu wajar dan jatuh mungkin saja akan terjadi.
Terkadang luka itu tidak bisa dihindari, tapi kita punya kesempatan untuk mencegah dan mengobati
Dalam pandangan Islam, setiap penyakit itu ada obatnya. Jika ditemukan obat sesuai dengan penyakitnya, maka sembuhlah penyakit itu atas izin Allah. Persoalannya, obat tidak sepaket dengan penyakitnya, tapi terpisah. Secara umum, penyakit selalu mendahului obat. Penyakit itu harus ada terlebih dahulu, baru ada obatnya. Dari sini muncul suatu proses pencarian. Manusia dengan kemampuan kognitifnya akan mencari dan menemukan obat dari setiap penyakit yang menimpanya.
Selain menemukan obat, manusia juga mencari penyebab penyakit dan upaya pencegahannya. Misalnya, penyakit malaria telah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Di zaman Yunani Kuno, malaria dikaitkan dengan rawa-rawa dan dianggap menular melalui air rawa. Banyak orang Yunani Kuno mengira penyakit itu menular karena meminum air rawa. Karena orang Romawi menghubungkannya dengan pernapasan atau uap yang timbul dari genangan air, penyakit itu kemudian disebut "mal aria", yang berarti "udara buruk", sehingga upaya yang mereka lakukan untuk mengendalikan malaria adalah mengeringkan rawa-rawa. Pada tahun 1630, pengobatan khusus malaria ditemukan melalui kulit pohon kina dari Peru, yang kemudian dibudidayakan oleh Belanda di Hindia Belanda.
Penyakit selalu mendahului obat. Tapi jangan khawatir, penyakit mental hingga gejala gangguan psikosomatis secara umum sudah diketahui obat, sebab, dan bahkan upaya preventifnya.
Tentang obat dan berobat
Penggunaan obat -kimia dalam mengurangi gejala penyakit khususnya mental memang diperkenankan dalam dunia kedokteran, akan tetapi bukan berarti semua orang yang bergejala harus mengkonsumsinya. Menurut saya, obat adalah upaya terakhir, tergantung pada tingkat keparahan. Hanya profesional terkait yang berhak memberi saran atau meresepkan obat tersebut. Kita tidak boleh menjadi bagian dari orang yang memilih jalan pintas, karena dapat berdampak pada ketergantuang obat yang berujung pada rehabilitasi atau tindak pidana narkotika.
Datanglah kepada dokter jika dirasa ada yang salah pada diri, baik dari segi fisik maupun psikis. Hasan al Banna (wafat: 1949), tokoh dari Mesir yang memberikan sumbangsih besar pada dunia Islam modern, membebankan satu kewajiban bagi aktivis dakwah, yaitu:
"Hendaklah engkau melakukan general check-up, segera mengobati penyakit yang ada padamu, memperhatikan faktor-faktor penyebab kekuatan dan ketahanan jasmani, dan menghindari faktor-faktor yang mengganggu kesehatan".
Kewajiban ini cukup beralasan karena banyak perintah di dalam Al Qur'an dan Hadist Nabi yang mengisyaratkan pentingnya jasmani bagi seorang muslim.
Pentingnya meneguhkan kembali visi kehidupan
Kita perlu percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia tidak sekedar bersifat materi, tetapi juga immateri seperti takdir: matinya, rezekinya, dan amal perbuatannya. Dalam arti lain Tuhan juga telah menentukan visi beserta tugas spesifik yang perlu kita jalani. Persoalannya, apa dan bagaimana visi dan tugas spesifik itu belum disadari. Setidaknya ada dua cara yang perlu ditempuh untuk mengetahui visi hidup dan tugas spesifik kita, yaitu dengan memahami wahyu Tuhan dan mengenali diri.
Memahami wahyu Tuhan tentang penciptaan manusia
Memahami wahyu Tuhan, di dalam Al Qur'an khususnya, memberikan petunjuk bahwa manusia diciptakan untuk dua hal: menjadi pemimpin di muka bumi dan beribadah kepada Allah. Tanggungjawab pengelolaan bumi telah diserahkan kepada umat manusia, sehingga sebagai individu kita dituntut untuk memberikan sumbangsih bagi kebaikan bumi dan seisinya. Apa dan bagaimana bentuknya perlu dirasionalisasi dan digali melalui pengenalan diri.
Kepemimpinan di bumi secara sederhana termanifestasi ke dalam setiap aktivitas sehari-hari. Lalu pertanyaannya, sudahkah aktivitas kita berorientasi pada kebaikan untuk bumi dan seisinya? Atau aktivitas kita hanya berorientasi pada kebaikan yang bersifat individual? Jangan sampai kita menjawab "ya" pertanyaan yang terakhir, sebab aktivitas yang hanya berorientasi pada kebaikan individual akan berdampak pada ketidakpedulian pada lingkungan sekitar, dan tingkat yang paling parah adalah tidak ada kepedulian pada kemaksiatan.
Pastikan aktivitas sehari-hari berorientasi pada kebaikan secara global. Mudahnya, jadikan profesi yang kita kejar itu berorientasi pada kebaikan, sehingga ketika kita sedang bekerja, sebenarnya kita sedang mejalankan peran sebagai pemimpin di muka bumi. Apapun profesinya, yang terpenting adalah orientasinya. Inilah salah satu makna penting hadist Rasulullah shalallahu alahi wassalam: "Innamal a'malu binniyat". Kita hanya mengejar ridha Allah, bukan ekspektasi manusia: pasangan, keluarga, tetangga, atau siapapun itu.
Menemukan minat dan bakat
Setelah memahami wahyu Tuhan terkait alasan penciptaan manusia, maka kita perlu mengenali diri. Setiap manusia diciptakan secara unik. Walaupun sama-sama diciptakan dari tanah, akan tetapi unsur-unsur insaniyah (hati, akal, dan jasad) membuat setiap manusia itu berbeda. Perbedaan ini dikarenakan manusia memiliki pilihan atas apa yang ia lakukan, entah itu nantinya bermuara pada fujur atau takwa. Setiap individu perlu memahami apa yang harus ia lakukan saat ini, hari ini, dan nanti. Referensi tindakan dapat diperoleh berdasarkan minat dan bakat. Mungkin minat merupakan hasrat yang dapat dengan begitu saja muncul, akan tetapi bagaimana dengan bakat?
Bakat dapat ditemukan ketika tahu kelebihan yang kita miliki. Untuk mengetahuinya kita perlu berkaca dan mengintropeksi diri setiap harinya, mencatat hal-hal terkecil yang kita lakukan lalu coba untuk merenungkannya. Allah berfirman dalam QS. Al Hasr ayat 18:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Penutup
Akhir kata, ketika kita menghadapi kelelahan dan jatuh, penting untuk selalu ingat bahwa itu adalah bagian dari perjalanan hidup. Setiap kejatuhan memberi kita kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan bangkit lebih kuat. Jangan ragu untuk mencari bantuan dan pengobatan jika diperlukan, baik fisik maupun mental. Yang terpenting, tetaplah teguh dalam visi hidup. Dengan demikian, kita dapat menghadapi setiap tantangan dengan bijaksana dan tetap berorientasi pada kebaikan yang lebih besar.
Wishing you strength and resilience in all your endeavors. Semoga kita semua selalu dalam lindungan dan hidayah-Nya.