Ya Allah, Aku...
Priit.. priit.. priit..
Kendaraan berlalu lalang sepanjang jalur lambat berhenti seketika suara peluit dari bibir manis itu berbisik ke telinga. Bercampur dengan dentingan air yang membuat alunan bagai drama musikal. Ayunan tangan berbalut sarung tangan putih turut menyejukkan hati hingga mata ini merasa perihnya keindahan.
Priit.. priit.. priit..
Tatapan kedua mata itu tak henti-hentinya mengawasi arah datang sang mentari. Menahan kesabaran untuk segera kembali mengikis penat yang terbungkam. Ku tetap berdiri melaksanakan tugas sembari menatapnya hingga ratusan kuda kembali berlari. Pesona waktu mengubah arah mata menuju jarum jam yang memutar di tangannya. Tapi lambaian tanganku memanggil dan berkata "Bisakah kau tetap di situ? Ada sesuatu yang ku tunggu".
Mata itu kembali berpindah arah menatapku yang begitu bodoh untuk berbicara. Rasa khawatir menghantui jiwa yang takut akan dosa. Memandang berjuta keindahan dunia membuat perasaan jadi tak menentu. Otak pun memaksa mendekati tetapi hati menahan untuk tetap berdiam diri. Merasa berdosa tetapi hati ini juga bahagia. Ingin ku ungkapkan tapi tak sanggup diri ini melawan hukum yang akan kembali.
Dalam hati ku berkata "Ya Allah, aku jatuh cinta!" Bukan sebuah judul buku yang telah ku baca melainkan curhatan rasa di jiwa. "Ya Allah, aku terpesona! Apakah ku berdosa merasakannya? Jika memang ini haram, jadikanlah halal. Jika belum saatnya simpankan untukku nanti. Dan jika bukan untukku, bahagiakanlah dia"
Kaki kecil ini lalu berlari mengejar tugasnya. Sesaat hendak kembali,
"Maaf.. Sudah ada yang menggantikanku" ungkapnya dengan suara yang tak dapat teringat dalam memoriku.
"Baiklah, terima kasih banyak" balasku.
Andai seekor burung, pastilah terbang setelah itu. Dan andaikan kupu-kupu pastilah menari mengelilingi bunga-bunga. Akan tetapi semua perumpamaan itu tak mampu menggambarkan seberapa bahagianya hati. Hanyalah senyum manis ini yang sanggup ungkapkan semuanya.
"Ya Allah aku jatuh cinta. Ya Allah, aku..."

0 komentar:
Posting Komentar