Satu Juz untuk Ayah



Pertemuan mentoring minggu depan menjadi lebih menegangkan. Ramadhan tinggal dua bulan lagi membuat kami harus kebut target tambah hafalan tiga juz mulai dari bulan Januari lalu. Mas Roy terus-terusan mengingatkan hitungan mundur hari menuju Ramadhan. Juga memberikan motivasi untuk tilawah sebanyak-banyaknya selama proses menghafal. Semisal pagi tadi Mas Roy mengirim pesan :

"H - 62 Ramadhan, Ikhwah. Segera tuntaskan hafalannya. Minimal kalian sudah setoran 1 juz untuk pertemuan minggu depan. Ingat, akan ada iqob (sanksi) bagi yang tidak tuntas"

Begitu pesan Mas Roy, hampir setiap pagi seperti itu. Bagaimana kami tidak panik? Tapi insyaAllah jika diniatkan karena Allah semua akan baik-baik saja dan hafalan tuntas tiga juz.

Mas Roy memang telah merencanakan program tiga juz sebelum Ramadhan ini dengan baik. Beliau menargetkan setiap dari kami akan menjadi imam tarawih di masjid dan mushola sekitar kampus yang memang membutuhkan. Tentunya beliau memberikan peringatan kami, walaupun tujuannya untuk mengejar target menjadi imam tarawih, selama proses menghafal harus selalu meluruskan niat. Secara pribadi Mas Roy juga memberikan motivasi kepadaku :

"Ikhwan, di saat antum mungkin merasa lelah, bosan, atau futur dalam menghafal, karena mungkin dituntut target, atau mengharap penghargaan dari orang lain karena hafalanmu itu, coba ingat - ingat lagi motivasi awal antum menghafal itu untuk apa" lalu beliau membacakan hadist Arbain yang pertama.

Seketika itu aku ingat pada Ayah yang telah wafat lima tahun lalu. Orang yang telah mengajarkan aku membaca Al Qur'an, menjadi motivasi aku untuk menghafalkan Al Qur'an agar kami bisa bertemu kembali di syurga, dan menghadiahkan mahkota yang indah. Memamerkannya pada penduduk syurga yang lain.

Mas Roy melanjutkan lagi hadist yang lain :
"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan do’a anak yang sholeh."

"Kalau antum pengen Ayah bahagia di sana, semangatlah dalam mempersholeh diri, Ikhwan. Dalam hadist tadi yang dimaksud anak bukan anak sembarangan, tapi harus yang sholeh. Anak yang senantiasa menaati perintah Allah, perintah Rasulullah, dan mengisi hari-hari dengan amal sholeh. Termasuk mengisi hari-hari dengan tilawah dan menghafalkan Al Qur'an."

Begitu sejuk nasehat yang diberikan Mas Roy, itu yang membuat kami betah berlama-lama bersama beliau, membuat kami semangat tilawah dan menghafalkan Al Qur'an, dan menantikan setiap pertemuan Mentoring, mendengarkan bacaan Al Qur'an beliau, nasehat-nasehat beliau, dan setoran hafalan pada beliau. Ayo hari cepat berlalu, segera kita Mentoring lagi.

Cerpen ini untuk pertama kalinya diterbitkan di LINE pada 4 Maret 2019. Diterbitkan ulang di Catatan Rugasu agar dapat dibaca semua orang.

0 komentar:

Posting Komentar