100 Hari Ramadhan

 


Entah kenapa, setelah aku tahu Ramadhan tinggal seratus hari lagi rasanya jadi rindu. Aku ingin tahu bagaimana kabar dia? Setelah Ramadhan tahun lalu, aku tidak lagi melakukan komunikasi seperti halnya sepasang kekasih dengannya.


"Ya Allah, rasa rindu ini.. 

Dosa kah?"


Banyak hal yang telah aku lalui selama hampir satu tahun setelah aku putus dengannya. Juga ada banyak perubahan semenjak aku aktif dalam organisasi keislaman, LDF. Aku jadi rajin pergi ke masjid, tilawah Al Quran sehari satu juz, dan bahkan aku sudah hafal 5 juz.


Setiap sepekan sekali aku selalu mengikuti agenda mentoring yang diadakan oleh LDF. Bagiku mentoring adalah kegiatan keislaman yang memiliki andil besar dalam hidup, termasuk pencapaian hafalan 5 juz aku peroleh dari mentoring. Kakak mentor senantiasa memberikan motivasi bagi adik-adiknya untuk menghafalkan Al Quran. Bahkan beliau tidak tanggung-tanggung akan mentrakrir seluruh peserta mentoring yang berjumlah 8 orang itu termasuk aku, apabila ada salah satu di antara kami yang telah berhasil hafal satu juz. 


Di antara kami ada 5 orang yang sudah memiliki hafalan lebih dari satu juz. Temanku Hasan yang paling banyak hafalannya, karena dia sudah mulai menghafal sejak SMA, sebanyak 20 juz. Aku yang kedua, lalu Ridwan 3 juz, Bagas 2 juz, dan Salim satu juz . Aku lupa sudah berapa banyak kita ditraktir oleh kakak mentor karena pencapaian-pencapain yang telah kami peroleh. Sisanya, Mufti, Robby, dan Fuad, masih dalam proses menghafal juz amma, karena mereka bertiga baru bergabung dalam grup mentoring kami. 


Kakak Mentorku, biasa kami memanggilnya Mas Roy, nama panjangnya Nizam Nur Royyan. Beliau mahasiswa semester akhir yang sangat luar biasa. Semua hal kebaikan hampir ada pada dirinya. Laki-laki hafidz quran 30 juz, imam masjid kampus, mantan ketua lembaga dakwah kampus, tinggi, putih, berjenggot tebal, dan bisa aku bilang dia sangat tampan. Tahun lalu beliau dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi tingkat universitas, mewakili Fakultas Ilmu Budaya. Bahkan aku pernah mendengar para akhwat membicarakan dirinya, tentang kelebihan-kelebihannya itu, dan memang beliau menjadi ikhwan idaman. Tetapi selama aku bersama Mas Roy, tidak ada sedikitpun tanda-tanda kesombongan ada pada dirinya, atau pun gosip-gosip yang miring tentangnya. Ikhwan panutan seluruh aktivis dakwah kampus memang. 


Aku belajar banyak hal pada Mas Roy. Tidak hanya tentang materi - materi keislaman, tetapi juga tentang akhlak, jiwa kepemimpinan, kewirausahan, intelektual, olahraga, dan bahkan soal cinta. Beliaulah orang yang memberiku nasehat tentang cinta, dan hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak pacaran lagi pada Ramadhan tahun lalu. Nasehat beliau selalu aku ingat, dengan suara yang lembut beliau berkata pada waktu itu :


"Cinta itu akh, asalnya dari Allah. Di kasihkan ke antum, biar antum seneng. Biar antum semangat, biar antum rajin, biar antum bersyukur, biar antum itu bisa menggapai ridho-Nya, biar antum bisa masuk syurga. Bukan justru sebaliknya. Bukan biar antum itu bermaksiat, bukan biar antum itu dimurkai, dan bukan biar antum itu masuk neraka. Cinta itu akh, bentuk kasih sayang Allah ke manusia, cuman tinggal bagaimana cara manusia itu menyikapi kasih sayang Allah itu. Bertambah keimanannya kah atau justru sebaliknya, membawanya ke dalam kekufuran. 


Coba antum baca kisah para salafus shalih, orang-orang yang paling dekat masanya dengan Rasulullah, para sahabat, orang-orang yang telah dijaminkan pada mereka syurga. Mereka adalah orang-orang yang mampu memaknai dan menyikapi bagaimana itu cinta, sesuai dengan kehendak Rabbnya."


Walaupun kata-kata itu tidak langsung tertuju kepadaku, tetapi secara general pada teman-teman satu mentoring, itu seperti memberikan tamparan keras terhadapku. Selama ini aku salah dalam memaknai dan menyikapi rasa cinta. Aku paham sejak itu seharusnya cinta memang bermuara ke syurga bukan neraka. Yang mendasarinya adalah keimanan, segala aktivitasnya disertai dengan keikhlasan, niat yang lurus, dan aliran-alirannya senantiasa menuju pada ketaqwaan. Patah hatiku saat itu. Dan Mas Roy mengajarkan aku bagaimana membangun hati yang patah itu kembali dengan cara-cara yang Allah ridhai.


"Ya allah, sekarang aku rindu.. 

Bolehkah?"


Cerpen ini untuk pertama kalinya diterbitkan di LINE pada 25 Januari 2019. Diterbitkan ulang di Catatan Rugasu agar dapat dibaca semua orang.

0 komentar:

Posting Komentar