Keindahan Desa Bantarwaru, Desa Seribu Pohon Mangga


Sungai Cipamali di Desa Bantarwaru

Siapa yang tak kenal Desa Bantarwaru? Banyak orang memang tak mengenal nama desa yang memiliki potensi berupa tanaman mangga dan pemandangan yang indah ini. Coba ketik “Desa Bantarwaru” di mesin pencarian google atau yang lain, maka mesin pencarian akan menampilkan Desa Bantarwaru di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Padahal bukan desa itu yang saya maksud, melainkan desa yang menjadi tempat KKN saya pada bulan Juli-Agustus lalu. Telah saya ulas secara singkat mengenai Desa Bantarwaru pada artikel sebelumnya, bahwa Desa Bantarwaru rencananya akan dijadikan sebagai desa agrowisata sebagai bagian dari program Pemerintah Kabupaten Brebes.

Letaknya sekitar satu setengah jam dari Purwokerto dan empat puluh menit dari Kecamatan Bumiayu, Brebes. Begitu dekat, tapi kenapa tidak ada yang menjenguk saya ketika KKN? Desa Bantarwaru merupakan salah satu desa di Kecamatan Bantarkawung, salah satu kecamatan yang nantinya akan menjadi bagian dari Kabupaten Bumiayu apabila pemekaran wilayah Kabupaten Brebes benar-benar dilaksanakan. Akses untuk menuju ke Desa Bantarwaru kini sangat mudah dengan menggunakan kendaran roda dua maupun roda empat. Dari pertigaan pasar bumiayu belok ke arah kiri (dari Banyumas) atau belok kanan (dari Brebes) lalu lurus saja sekitar empat puluh menit hingga masuk ke pasar Desa Bangbayang. Di situ kamu akan menemukan pertigaan, lalu belok kanan, lurus setelah jembatan akan ada gang di kanan jalan samping pengisian air galon, nah belok kanan lalu lurus terus sampai menemukan gapura Desa Bantarwaru. Lebih mudah lagi apabila kamu menggunakan bantuan aplikasi Google Map.

Pada awalnya akses menuju ke sana sangat sulit karena jalanan rusak berbatu dan berdebu. Tetapi alhamdulillah sekarang semua sudah diperbaiki. Saya ingat ekspektasi awal masuk ke desa, sepertinya KKN kali ini akan penuh dengan perjuangan. Selama KKN jalan dari Desa Bangbayang hingga ke Desa Bantarwaru diperbaiki, jadi sekarang tidak penuh dengan perjuangan lagi. Sebenarnya petunjuk yang saya berikan di atas adalah jalan memutar dan lumayan jauh. Sebenarnya untuk masuk ke Desa Bantarwaru bisa langsung dari Jalan Raya Bumiayu – Bantarkawung. Tetapi memang jalan ini belum berupa jalan aspal dan hanya bisa dilalui pada musim kemarau, karena harus menyeberangi sungai tanpa jembatan. Hanya butuh kurang dari 10 menit untuk sampai ke Desa Bantarwaru melalui jalan ini dibandingkan melalui Desa Bangbayang.

Ada dua jalan ketika kita mau masuk ke desa, yaitu jalan menaiki bukit atau jalan pinggir sungai. Awalnya jalan masuk ke desa adalah jalan di pinggir sungai dan itu sangat jauh karena memutari bukit. Mungkin dahulu pembuat jalan belum sanggup untuk membelah bukit, sehingga memilih untuk membangun jalan di bagian lereng. Tetapi sekarang jalan yang sudah diperbaiki adalah jalan yang menaiki bukit, jelas lebih cepat, tapi sangat curam. Kata Pak Nawan, dulu jalan itu dibuat melalui swadaya masyarakat, bersama-sama menggunakan cangkul, atau apa saja untuk membuka jalan baru melalui bukit.

Gapura masuk Desa Bantarwaru berada tepat di persimpangan jalan antara jalan pinggir sungai dengan jalan melewati bukit. Kita tidak langsung disambut oleh perumahan warga, melainkan hamparan lahan pertanian yang begitu luas tapi berbukit. Lahan yang berada di kanan jalan adalah tanah bengkok desa seluas 6 Ha dan bagian 5 Ha merupakan lahan yang dikelola oleh kelompok tani PLKSDA – BM yang ditanami manga garifta. Jadi ketika suatu hari nanti sudah menjadi agrowisata, orang yang masuk Desa Bantarwaru akan disambut oleh pemandangan pohon manga penuh warna di kanan jalan, dan kiri jalan oleh area persawahan yang sudah dibuat terasiring. Kalau jadi, nantinya akan dibuat jalan masuk ke area 5 Ha itu, baik untuk motor maupun mobil.

Desa Bantarwaru dibagi menjadi empat dukuh yang saling terpisahkan oleh area persawahan, tetapi polanya tetap sama, berada di pinggir Sungai Cipamali. Dukuh yang menyambut kita pertama kali adalah dukuh Bantarwaru, dukuh paling padat, letak pemerintahan desa, dan letak agrowisata mangga nantinya. Dukuh lainnya yaitu Dukuh Karangsari, Dukuh Bangkong, dan Dukuh Karanganyar. Uniknya, Desa Bantarwaru termasuk desa di Jawa Tengah yang menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari, kecuali Dukuh Bangkong yang menggunakan Bahasa Jawa ngapak, sebagaimana Bahasa masyarakat Brebes pada umumnya.

Pohon Mangga di Setiap Halaman Rumah
Saya tertarik dengan ungkapan yang disampaikan oleh Pak Husen, salah seorang perangkat desa yang juga anggota kelompok tani PLKSDA-BM, pada saat menghadiri salah satu sosialisasi yang kami adakan waktu KKN beliau menyampaikan kurang lebih seperti ini :

Dulu, sekitar 20 tahun yang lalu kita masih anak-anak pada ngambilin buah mangga –mencuri-, sekarang setiap rumah punya pohon manga jadi udah nggak ada yang namanya orang nyuri mangga di Bantarwaru. Cuman ini buah mangga garifta, masih ada yang ngambil, karena penasaran atau cuma sekedar pengen ngerasain. Tapi sekarang udah tahu cara nyambung mangga garifta jadi tiap rumah bisa nanam sendiri di pekarangannya masing-masing. Kalau pada punya sendiri-sendiri di rumah, nggak ada lagi yang nyuri.

Memang setiap pinggir jalan dan setiap halaman rumah warga ditanami pohon mangga, sepengetahuan saya memang tidak ada yang tidak punya. Varietas mangganya juga bervariasi, mangga golek, arumanis, mangga manalagi, mangga kuweni, dan lainnya. Ketika saya mewawancarai salah seorang warga yang juga merupakan ketua RT mengenai buah mangga setelah panen dikemanakan, beliau menjawab akan ada orang –pengepul- yang datang ke desa untuk membeli buah mangga, saya lupa berapa harga yang ditawarkan oleh pengepul tersebut. Tetapi seingat saya, dari satu pohon mangga bisa mendapat uang Rp 600.000. Tentunya harga beli langsung dari pohonnya seperti itu lebih murah dibanding harga jual ditoko buah atau dipinggir jalan. Lebih baik memang warga yang memiliki pohon mangga menjual mangganya sendiri di pasar, memberikan penawaran sesuai harga pasar. Tentu keuntungannya lebih besar. Menurut saya begitu.

Hal yang saya rekomendasikan adalah mengunjungi Desa Bantarwaru saat panen mangga tiba. Sebenarnya sekarang ini beberapa pohon mangga sudah ada yang bisa dipanen, tapi kira-kira bulan Oktober – November akan menjadi puncaknya. Saya sendiri belum tahu keadaannya seperti apa ketika panen mangga, yang jelas setiap rumah akan memiliki stok buah mangga entah dikonsumsi sendiri atau untuk dijual.
Pemandangan Sungai Cipamali dari jalan menuju Dukuh Karangsari
Pemandangan Sungai Cipamali
Sungai Cipamali menjadi keberkahan tersendiri bagi masyarakat Desa Bantarwaru. Sebab ia adalah sumber kehidupan bagi tanaman pertanian yang mereka tanam. Dari hasil tanam itu lalu dijual, uangnya untuk kebutuhan sehari-hari. Tak hanya berfungsi sebagai irigasi, Sungai Cipamali juga memiliki keindahan yang luar biasa bila disaksikan dari atas. Sayangnya sungai ini tidak menjadi objek wisata, atau belum menjadi. Semoga seiring berjalannya waktu masyarakat dapat menggali potensinya.

Pemandangan Sungai Cipamali dapat kita nikmati keindahannya dari Dukuh Karangsari. Berbeda dengan Dukuh Bantarwaru, antara sungai dengan lahan pertanian tidak begitu tinggi, oleh sebab itu lahan pertaniannya lebih basah karena sering disiram. Lahan di Dusun Karangsari sudah mulai ditanami bawang merah dan ada juga yang ditanami padi. Beberapa waktu lalu petani di Bantarwaru mengalami gagal panen padi akibat kemarau berpanjangan. Bahkan saat ini pun belum ada tanda-tanda hujan. Padahal wilayah Purwokerto tempat saya tinggal sering hujan da hampir setiap hari mendung.

Viral : Jembatan BAPER
Setelah berjalan-jalan di Dukuh Karangsari, lurus sedikit kita akan berada di Dusun Bangkong dan Dusun Karanganyar. Letak kedua dusun ini berada di kiri dan kanan jalan. Mengenai Dusun Bangkong sudah sedikit saya ulas di atas, bahwa dusun ini mayoritas penduduknya adalah orang jawa dan berbahasa jawa. Kata Pak Wahyudin, mantan kades yang sempat saya sambangi rumah beliau, bercerita bahwa Bagkong berasal dari Bahasa Sunda yang artinya katak besar. Memang ada batu yang menyerupai katak di dusun ini, dan itu dikeramatkan oleh sebagian warga dusun, itulah kenapa dusun ini dinamai Dusun Bangkong. Setelah melewati Dusun Bangkong, beberapa menit kemudian kita akan melewati jembatan yang menjajakan pemandangan sangat indah, jembatan BAPER namanya. Sekilas bikin kita bawa perasaan, apakah ada kisah-kisah romantisme di jembatan ini? Apakah berbau mistis?
Pemandangan dari Jembatan BAPER (Bangkong-Pengarasan)

BAPER sebenarnya adalah akronim dari dua nama Bangkong – Pengarasan, sebuah jembatan yang menghubungkan kedua desa. Jembatan ini termasuk bangunan baru, sebelumnya tidak ada jembatan di sana. Jadi untuk menuju Desa Pengarasan harus menyeberangi sungai dengan perahu. Atau jika membawa kendaraan harus memutar jauh dari Desa Bangbayang sekitar 25 menit. Kata Pak Wahyudin, kebetulan pembangunan Jembatan BAPER ini terjadi di masa beliau menjabat dan sempat ada protes dari tukang perahu. Karena mata pencaharian mereka akan hilang dengan adanya pembangunan jembatan. Tetapi akhirnya mereka menerima. Kan maslahat akan lebih besar ketika jembatan itu di bangun.

Setiap hari Minggu pagi, Jembatan BAPER ini ramai dikunjungi warga. Banyak penjual makanan sarapan maupun cemilan tradisional seperti cenil dan getuk. Ada juga nasi jangung, benar-benar nasi dari beras dicampur jagung. Tentunya bikin nagih apalagi dicampur urap, ikan asin dan sambal. Saya menyarankan untuk datang pagi-pagi sekali, agar dapat menikmati sunrise dihiasi pemandangan sungai dan perbukitan. Mungkin Jembatan BAPER ini kedepannya dapat dijadikan destinasi wisata yang dapat memberikan kontribusi bagi desa. Tukang perahu mungkin juga dapat kembali mengoperasikan perahunya, tetapi bukan dalam rangka penyebarangan sungai, melainkan untuk wahana wisata sungai.

Sedikit Mengenai Warga Desa Bantarwaru
Saya sangat senang, melihat warga yang sedang duduk-duduk di teras, antusias menyambut kedatangan kami. Anak-anak pun sering memanggil kami “kakak” ketika kami berpas-pasan, atau sekedar mengajak kami untuk bermain bersama mereka. Warga desa yang masih memiliki simpati, empati yang tinggi, dan suka memberi. Ketika mengerjakan program kerja di luar, pulang-pulang kami membawa oleh-oleh berupa singkong, jagung, pisang, hingga kelapa hasil dari pemberian warga yang mayoritas bekerja sebagai petani.

Ya begitulah keindahan Desa Bantarwaru, tak hanya indah pemandangan alamnya, tetapi juga indah pemandangan sosialnya. Sampai jumpa di Bantarwaru!

1 komentar: