Sepenggal Kisah Al-Manshur Saifuddin Qalawun, Kisah Indahnya Berprasangka Baik pada Allah


Kisah ini saya dapatkan pertama kali di dalam sebuah majelis di masjid sekolah sekitar tahun 2015. Di ceritakan oleh guru kami pada hari Jumat siang yang penuh berkah, yang baru saya tahu ternyata kisah ini menjadi terkenal sejak ditulis oleh Ustadz Salim A. Fillah di buku Dalam Dekapan Ukhuwah.


Ini kisah tentang seorang ayah dan anaknya. Singkat cerita si Ayah mengajak anaknya untuk membeli kuda. Dibelilah kuda itu, tetapi beberapa hari kemudian kudanya lepas. Lalu si Ayah berkata : "Nak, kita tidak tahu ini nikmat atau musibah, yang penting kita berprasangka baik pada Allah."


Tidak lama kemudian, kudanya kembali membawa gerombolan kuda lain. Akhirnya si Ayah dan anaknya memiliki banyak kuda.


Hari berikutnya si Anak naik kuda, tetapi kemudian jatuh dan kakinya patah. Lalu si Ayah berkata : "Nak, kita tidak tahu ini nikmat atau musibah, yang penting kita berprasangka baik pada Allah."


Beberapa waktu kemudian datang seruan untuk berjihad. Setiap pemuda wajib untuk ikut berperang. Ternyata itu adalah perang antar sultan negeri muslim. Si Ayah tidak menghendaki perang tersebut dan bukan sesuatu yang dicita-citakan karena perang melawan saudara sendiri. Di saat si Ayah dan anak ini hendak direkrut, ternyata tidak bisa karena si Anak sedang terluka dan si Ayah merawatnya. Akhirnya si Ayah dan anak ini terbebas dari fitnah perang sesama muslim.


Lalu mereka berkata "Kami tidak tahu ini nikmat atau musibah yang penting kami berprasangka baik pada Allah." 


Beberapa waktu kemudian tersiar kabar bahwa mereka yang pergi berperang di garis depan gugur. Lalu si Ayah dan anak berkata : "Kami tidak tahu ini nikmat atau musibah yang penting kami berprasangka baik pada Allah."


Beberapa waktu kemudian datang seruan jihad kaum muslimin melawan pasukan mongol yang di pimpin oleh Saifuddin Qutuz. Si ayah dan anak lalu ikut berjihad. Qodarullah, si Ayah syahid, sedangkan si anak tertangkap musuh dan dijual sebagai budak. Akhirnya si Anak menjadi budak sultan mesir. Dikarenakan si Anak ini cerdas, ia lalu dibebaskan dan dijadikan penerus sultan mesir berikutnya, dengan nama Al Manshur Saifuddin Qalawun.


Kisah Saifuddin Qalawun ini mengingatkan kita kembali pada sebuah hadist qudsi :

"Ana 'inda dzonni abdi bi.."

"Sesungguhnya Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.."


Selama kita berprasangka baik pada Allah, InsyaAllah hasilnya akan baik. Kita yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita adalah apa yang Allah kehendaki terhadap diri kita. Entah itu nikmat atau musibah, yang penting kita berprasangka baik pada Allah.


Jika kita belum mampu berprasangka baik pada Allah, coba kita ingat-ingat lagi kejadian-kejadian yang selama ini pernah kita alami. Bayangkan bagaimana jika seandainya kejadian-kejadian itu tidak terjadi. Tentunya kita tidak akan sampai pada pencapaian-pencapaian saat ini. Tentunya kita tidak akan mendapatkan kenikmatan seperti saat ini. Jadi, mari terus berprasangka baik pada Allah. 

0 komentar:

Posting Komentar