Ramadhan, Putus!
Assalamualaikum, sayang.
Afwan. Ramadhan tinggal menghitung jam. Kamu tahu jika Ramadhan adalah bulan yang penuh hikmah dan maghfirah. Allah akan mengampuni setiap orang beriman yang berpuasa dengan mengharap pahala dari-Nya.
Waktu-waktu yang telah kita jalani bersama, aku rasa cukup sampai di sini. Aku merasa diri ini penuh dosa, aku ingin Allah mengampuninya.
Aku ingin fokus, berjuang di siang hari, kuliah seperti biasa, menghiasinya dengan tilawah di setiap jedanya.
Aku ingin fokus, iktikaf di setiap malamnya, menjadi rahib yang selalu menangis di setiap sujud dalam untaian doa.
Sayang, aku mencintaimu dalam koridor diri sebagai manusia biasa. Tetapi aku mencintai-Nya sebagai seorang hamba, yang seharusnya menaati setiap perintah dan menjauhi setiap larangan
Sayang, menjadi seorang hamba adalah kemuliaan bagi manusia, sebagaimana Muhammad, Isa, Musa, Ibrahim, dan manusia - manusia sebelumnya.
Sayang, maafkan aku. Putus adalah hal yang mungkin paling kamu benci. Tapi hal yang kamu benci belum tentu buruk bagimu. Bisa jadi ini adalah keputusan yang terbaik.
Baik untukmu, juga baik untukku. Bukankah seseorang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik?
Sayang, ini bukan keputusan yang tergesa-gesa, melainkan telah aku pikirkan matang-matang, sejak dahulu.
Aku tahu, kamu akan rindu. Di malam hari sebelum tidur, aku selalu mengingatkanmu untuk bangun pukul 3, melaksanakan tahajjud, atau untuk makan sahur setiap malam senin dan kamis.
Atau, ketika aku bertanya kamu sudah makan apa belum, lagi apa, atau mengajakmu untuk jalan-jalan naik kereta. Atau hal-hal lain, yang tak dapat ku sebut satu-persatu di sini.
Sayang, maaf, kita putus. Di awal Ramadhan yang seharusnya kita bisa berbuka puasa bersama atau aku menjadi imam sholat tarawih di rumahmu, berjamaah bersama keluargamu.
Sayang, maaf, aku pergi. Menjauh, dari cinta yang belum saatnya, dari hubungan yang tak diridhai-Nya.
Suatu hari nanti, jika Allah memang telah takdirkan kita bersama, maka kita akan bersama. Tak ada yang sulit bagi Allah. Atau walaupun kita tetap bersama, jika Allah takdirkan kita tak bersama, akhirnya juga akan berpisah.
Sayang, mulai dari akhir kata ini, aku tidak lagi memanggilmu sayang, aku harap kamu paham terhadap apa yang telah aku pahami dan menerima apa yang telah aku putuskan.
Afwan,
Dari seseorang yang ingin hijrah
Assalamu’alaikum
Note:
Cerpen ini untuk pertama kalinya diterbitkan di LINE pada 16 Mei 2018. Diterbitkan ulang di Catatan Rugasu agar dapat dibaca semua orang.
0 komentar:
Posting Komentar