Ramadhan, Terluka
Waalaikumsalam,
Maaf, lama membalas pesan darimu. Aku tak tahu harus bagaimana ketika pertama membaca pesan itu. Aku sedih, menangis, dan bingung. Aku butuh waktu untuk memikirkan bagaimana sikap yang harus ku ambil atas keputusanmu.
Di hari ke lima Ramadhan ini, aku telah mencoba melawan benci terhadapmu, selama itu juga aku berusaha berpuasa, tilawah, dan sholat malam dengan mengharap pahala dari Allah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku.
Aku paham bahwa keinginanmu untuk menjadi seorang hamba sebenar-benarnya hamba adalah keinginan yang terbaik. Aku pun ikut senang dan bangga, mencintai seseorang yang mencintai pencipta-Nya, rajin beribadah, apalagi jika pandai membaca dan menghafal quran.
Tapi tahu kah kamu, aku sakit. Aku terluka. Aku belum siap menerima keputusan ini. Aku takut sendiri. Takut kesepian. Takut ketika tidak ada lagi panggilan sayang, tidak ada lagi ucapan selamat malam, selamat tidur, dan semoga mimpi indah. Atau kamu berdoa agar kita bertemu dalam mimpi.
Tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk bangun tahajjud, atau bangun sahur pada malam senin dan kamis. Tidak ada lagi saat-saat di mana kita duduk berdua dalam kereta. Saat kamu menunjukkanku pemandangan pantai dari balik jendela kaca, itu adalah pengalaman pertama naik kereta terindah. Sepanjang perjalanan sambil minum teh, kita berbicara tentang keluargamu, cita-citamu, dan tentang mimpi-mimpi yang kita bangun bersama.
Aku rindu semua itu. Dan aku ingin menikmati masa-masa itu lagi bersamamu. Aku tidak ingin semuanya hilang begitu saja, hanya tersisa foto - foto dan beberapa pernak-pernik yang kita beli di obyek wisata. Bahkan itu semua hampir saja aku bakar, jika bukan karena aku tak ingin kehilangan semua tentangmu.
Jika seandainya kita masih pacaran, mungkin ramadhan kita hiasi dengan tarawih bersama, kamu memperdengarkan bacaan quranmu dan membacakan surat Ar-Rahman, atau mungkin juga kamu menyimak bacaan quranku yang masih belum sempurna dalam tajwid, dan benar juga kamu menjadi imam sholat tarawih di rumahku.
Aku mencoba membayangkan bagaimana lebaran tanpamu, bagaimana aku menjawab bertanyaan ibu, jika ia menanyakan kenapa kamu tidak datang seperti lebaran sebelumnya. Itu berat, aku tidak kuat.
Ku harap kamu bisa mempertimbangkan keputusan itu lagi. Bukankah menyakiti perasaan wanita itu dosa? Apakah kamu pernah menyakiti hati ibumu? Bagaimana perasaan ibu ketika sakit hatinya? Mungkin kamu bisa menanyakan kepadanya terlebih dahulu, lalu kembalilah.
Seseorang yang terluka,
Assalamu’alaikum
Note:
Cerpen ini untuk pertama kalinya diterbitkan di LINE pada 21 Mei 2018. Diterbitkan ulang di Catatan Rugasu agar dapat dibaca semua orang.

0 komentar:
Posting Komentar