Adakah yang Lebih Membahagiakan Selain Melihatnya Tumbuh?
Siang tadi, seusai sholat Jum'at, saya berjalan dari masjid menuju kosan. Sebenarnya ini jumatan pertama yang saya kerjakan di masjid dekat kosan sejak enam bulan lalu, karena selama itu saya sholat Jumat di masjid sekitar kantor. Di perjalanan pulang, saya bebarengan dengan seorang anak yang tidak asing lagi wajahnya. Namanya adalah Fiko. Fiko adalah anak dari tetangga kosan lama, yang saya tempati pada tahun 2016-2017.
"Iya" jawabnya.
"Udah gede kamu ya sekarang. Inget aku nggak?"
"Siapa ya? Lupa."
"Aku Mas Lugas, yang dulu ngekos di WR."
"Wah, lupa."
"Walah, dulu kamu kecil banget, segini. Sekarang udah gede ya. Berapa umurmu sekarang?"
"empat belas tahun."
"Waduh, berarti dulu pas pertama ketemu kamu umur sembilan tahun." ucapku pangling.
Sorenya, saya sempatkan menata ratusan pot kaktus yang beberapa bulan ini tidak saya beri perhatian khusus. Banyak yang sudah bertunas, mungkin jumlahnya hampir 200. Bahkan waktu dua jam masih belum cukup untuk menata semuanya. Mengingat-ingat pada tahun 2019, saya mendapati seorang teman yang memposting tawaran tanaman kaktus melalui WhatsApp status. Dari situ saya minta, lalu diberi satu pot berisi kaktus yang sudah bertunas dua baby cactus. Siapa sangka, sekarang saya punya ratusan pot kaktus dari awalnya satu pot yang kemudian tiap hari saya lihat, saya perhatikan, dan terkadang saya bikin konten.
Setelah lelah merawat kaktus, lalu saya melanjutkan menata dokumen-dokumen selama kuliah. Mana yang penting dan mana yang tidak masih menyatu dalam tumpukan-tumpukan kardus. Sore itu saya cukupkan untuk memilah satu kardus yang ternyata berisi dokumen tahun 2017 - 2018. Di situ saya menemukan berkas-berkas mentoring dan pelatihan.
Saya menemukan data diri peserta mentoring Fakultas Hukum yang pernah saya ampu pada tahun 2017. Kebanyakan dari mereka yang saya tahu kabarnya sudah lulus menjadi Sarjana Hukum. Bahkan ada yang memberi kabar diterima menjadi calon jaksa. Siapa sangka, mahasiswa baru yang dulu masih meraba-raba bagaimana menjalani kehidupan kampus, perlahan mendapati jalan hidupnya. Saya sebagai orang yang pernah hadir walau sebentar, cukup merasakan bahagia melihatnya tumbuh.
Seperti seseorang yang melewati tanaman pohon yang baru saja ditanam di pinggir jalan, ia sempatkan untuk menyiram. Sekali saja, lalu kembali lagi melewati jalan itu setelah beberapa tahun, belasan, bahkan puluhan tahun. Tidak lagi ia temui pohon kecil, pendek, dan kurus, melainkan pohon yang begitu besar, rindang, dipenuhi bunga-bunga yang indah di tempat yang sama tanaman pohon yang pernah ia siram dahulu. Lalu di dalam mobil, ia berkata pada anak cucunya :
"Dahulu aku pernah lewat sini, tanaman itu dulu masih kecil, baru ditanam, dan aku sempat menyiraminya sekali." bayangkan adegan bapak tua duduk di kursi kiri mobil, ia tersenyum dan wajahnya terproyeksi siluet daun yang terpapar senja.
Tentu bapak tua itu bahagia, karena ia pernah menyiram tanaman itu. Bayangkan jika ia dahulu hanya sekedar lewat, tak bertegur sapa. Pohon besar rindang berbunga itu tak akan berarti apa-apa.
Lalu adakah yang lebih membahagiakan selain melihatnya tumbuh?
0 komentar:
Posting Komentar