Hikmah Dari Sebuah Perjalanan

Saya sangat menyukai perjalanan, apalagi naik motor atau naik kereta. Perjalanan kemanapun itu. Karena bagi saya tujuan tidak lebih penting dari perjalanan itu sendiri, yang penting jalan aja, menghabiskan waktu di jalan, berhenti di sebuah masjid untuk sholat dan tilawah Al Quran sejenak, sembari istirahat lalu lanjut lagi perjalanan sambil murojaah beberapa ayat, bernyanyi, atau terkadang berbicara dengan diri sendiri sebagai latihan public speaking. Walaupun demikian, hampir semua perjalanan yang saya lakukan bertujuan untuk bertemu dengan teman-teman.



Bagi sebagian orang mungkin menyebalkan menghabiskan waktu di perjalanan, terutama naik motor. Apalagi jaraknya yang jauh dan tentunya melelahkan. Tapi bagi saya, perjalanan adalah sarana recharge energi bagi seorang introvert, ia adalah salah waktu menyendiri terbaik, dan merupakan sarana mendekatkan diri pada Allah. Di perjalanan, saya jadi lebih sering untuk mengucap tasbih, tahmid, tahlil, istighfar, dan shalawat. 


Ternyata perjalanan jauh (safar) medapatkan perhatian khusus di dalam Islam. Ia dapat bernilai pahala; orang yang melakukan perjalanan (musafir) do'anya mustajab; ia menjadi sebab diberikannya keringanan (rukshah) terhadap beberapa syariat yang hukumnya wajib. Bahkan safar yang dilakukan secara kolektif dapat menjadi sarana membangun ikatan hati dan membangun diri. 


Saya ingat lima tahun lalu, di awal-awal menginjakkan kaki di Purwokerto, saya menyempatkan diri untuk hadir dalam sebuah kajian di Masjid Nurul Ulum, Unsoed. Pada waktu itu pengisi materinya adalah Ustadz D, beliau menyampaikan bahwa safar adalah sarana untuk mengetahui sifat asli seseorang. 


Pada saat safar, seseorang akan menguras banyak energi, kelaparan, dan pastinya kelelahan. Sehingga seseorang akan dengan mudah mengeluarkan sifat aslinya. Jika ia adalah orang yang sabar, maka kan muncul kesabarannya dalam menjalani perjalanan yang jauh, cuaca yang tidak menentu, kehabisan bekal, kehilangan barang, tersesat, dan lain sebagainya. Jika ia adalah orang yang tempramen, maka munculah sifatnya itu ketika menghadapi hal yang sama. Seseorang yang berkepribadian pemimpin akan memecahkan masalah-masalah yang timbul selama perjalanan. Sedangkan orang yang berkepribadian pecundang akan dengan mudah mengeluh, mengutuk, dan mencaci. 


Hal demikian pernah menjadi suatu parameter Umar bin Khattab untuk menilai kredibilitas seseorang. Pada suatu hari datang seorang laki-laki untuk memberi kesaksian kepada Umar bin Khattab yang saat itu menjabat sebagai Khalifah. Akan tetapi, Umar tidak mengenal laki-laki ini. Lalu ia memerintahkan si laki-laki untuk membawa orang yang mengenalnya. Datanglah ia, sebut saja si A. Lalu Umar bertanya salah satunya :


"Pernahkan engkau bersafar dengannya, sehingga engkau tahu ia memiliki akhlak yang mulia?"

"Tidak" jawab si A.

"Berarti engkau tidak mengenalnya" jawab Umar. 


Tampak bahwasannya, safar menjadi media untuk mengetahui sifat asli seseorang. Dari situ kita dapat benar-benar mengenal teman atau sahabat kita. Sehingga pengenalan itu dapat menjadi bekal kita untuk saling memahami, menasehati, dan memperbaiki satu sama lain.


Jadi perjalanan tidak hanya soal kesenangan pribadi, tapi ada hal yang lebih menarik yang bisa kita pelajari.

0 komentar:

Posting Komentar