Bagi saya bertemu dengan orang adalah kegiatan paling menyenangkan. Apalagi orang itu adalah teman lama atau teman seperjuangan. Bahkan saya sering sengaja pergi ke suatu kota hanya untuk menemui mereka. Walaupun sebenarnya hanya satu hal yang kami lakukan, yaitu ngobrol. Ya ngobrol apa saja. Tentang masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Tapi rasa-rasanya ada hal yang berbeda dari obrolan dulu dengan sekarang. Obrolan dua atau tiga tahun lalu, yaitu masa sedang aktif-aktifnya di dunia kampus banyak berisi obrolan seputar apa yang sedang terjadi, progress akademik, dan kehidupan organisasi dengan sedikit dibumbui nostalgia masalalu. Obrolan kami sekarang didominasi dengan obrolan-obrolan yang membahas tentang masa depan, khususnya pernikahan.
Entah kenapa, pernikahan adalah satu topik yang paling menarik di antara obrolan yang lain. Di mulai dengan pertanyaan bagaimana rencana pernikahan, udah ada calonnya atau belum, kapan nikah, bagaimana model keluarga yang akan dibangun, dan sebagainya. Saya mencoba bertanya pada diri sendiri, bisa nggak sih kita nggak ngobrolin itu? Jawabannya nggak bisa!
Pernikahan akan selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan terlebih bagi mereka yang sekarang berusia lebih dari dua puluh satu tahun. Saya teringat dengan sebuah teori dalam ilmu psikologi yaitu Teori Perkembangan Psikososial yang dikenalkan oleh Erik Erikson. Kepribadian manusia menurut Erikson dibagi menjadi beberapa tahapan yang dihasilkan melalui interaksi antara kebutuhan biologis dengan tuntutan masyarakat dan kekuatan-kekuatan sosial yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Ada delapan tingkatan yang menjadi bagian dari teori psikososial Erikson, yang akan dilalui oleh manusia :
Erikson percaya bahwa dalam setiap tingkat, seseorang akan mengalami konflik yang akan berpengaruh besar terhadap dirinya. Coba kita perhatikan pada tahap young adult (21-39 years) yang merupakan usia saya dan teman-teman sebaya saya sekarang. Tahapan ini berfokus pada pembentukan hubungan/relasi yang intim dan penuh kasih dengan orang lain. Pada tahap ini seseorang membutuhkan hubungan yang lebih dekat dengan orang - orang yang dianggap bisa memberikan kenyamanan dan kebahagiaan untuk mereka. Seseorang akan mencoba untuk mencari pasangan, menikah, apabila berhasil maka akan terjalin relasi yang yang erat (intimacy). Jika gagal ia justru menjauhkan diri dari berbagai macam relasi (isolation), dan ini bergantung pada pengalaman/konflik yang pernah dialami. Karakter yang hendak dibangun dalam tahap ini adalah love.
Berdasarkan penjelasan teori Erik Erikson di atas, maka sangat wajar jika topik obrolan kita di masa-masa ini adalah pernikahan. Kita pun ingat di masa-masa sekolah, kita hampir tidak pernah membahas soal pernikahan. Ya karena memang secara perkembangan psikososial kita belum sampai pada waktunya untuk membahas hal itu. Dan mungkin nanti di usia empat puluhan nanti obrolan kita tidak lagi membahas pernikahan sebagaimana kita bicarakan sekarang. Obrolan bapak-bapak tentunya akan jauh berbeda dan nggak nyambung buat kita yang sedang berada dalam masa dewasa muda.
Jadi kesimpulannya, santai saja ketika ketemu ditanyain kapan nikah, udah ada calonnya apa belum, dan lain sebagainya. Tidak usah risau dan lebay juga nanti waktu lebaran ditanya keluarga besar ataupun tetangga, karena ini tahapan yang mesti kita hadapi dan kita jalani. Semoga berhasil!
0 komentar:
Posting Komentar