Inspirasi dari Bumi Manusia: Naik Delman di Hindia Belanda


Romantisme masa lalu, entah kenapa dulu kita pernah menyusuri jalan Surabaya - Wonokromo bersama. Aku yang mengajak atau kau?


Sekarang Wonokromo adalah satu kecamatan bagian dari Surabaya. Itu tidaklah jauh seperti yang kita rasakan dulu. Bahkan sekarang anak-anak ke sekolah 20-30 kilo jauhnya.

Setidaknya ada hal-hal yang sulit atau bahkan tidak bisa dinikmati oleh orang-orang sekarang sebagaimana yang kita nikmati dahulu. Berdua menaiki andong, mengelilingi kota. Berangkat pulang sekolah bersama dengan andong yang sama.

Eh bukan berdua tapi bertiga, dengan kang delman, pengemudi andong.

Saat pertama kita jalan, tak ada satu patah pun yang terucap. Malu? Atau memang tidak ada kata yang mesti diucap?

Sebenarnya aku pendiam, kikuk(?). Detak jantung cepat, tidak berani duduk lebih dekat. Ya itulah aku yang yang pertama.

Sekarang? Mungkin masih sama. Tidak berani mendekat. Kapan terakhir kita bertemu dan berbicara? Kebanyakan hari-hari kita habiskan di meja belajar, menulis surat.

Itu dulu. Sekarang muda mudi telah mengalami perkembangan seiring dengan zaman. Andong dahulu mesti ada kang delman untuk mengemudi. Sekarang, cukup berdua saja, tidak ada yang mengganggu dan mendengarkan, cukup berdua saja.

Di atas roda dua atau roda empat.

Oh ya dulu bukan bertiga, tapi berempat, tambah kuda.

Tulisan ini untuk pertama kalinya diterbitkan di LINE pada 24 Juli 2018. Diterbitkan ulang di Catatan Rugasu agar dapat dibaca semua orang.

0 komentar:

Posting Komentar