Inspirasi dari Bumi Manusia: Antrean di Hulppost- en telegraafkantoor
Pagi itu aku berlari mengejar waktu pukul tujuh. Terlalu pagi memang untuk mengirim sebuah surat ke kantor pos. Bukankah semakin pagi akan semakin cepat dikirim (?) atau sama saja?
Tadi malam aku tidak tidur, lembur menulis sebuah surat yang akan ku kirim ke Wonokromo. Berbagai macam buku sastra bertumpuk sebagai referensi kata-kata. Ini bukan kali pertamanya aku menulis surat. Hanya saja ini surat cinta yang pertama aku tulis.
Sebenarnya lebih cepat dan mudah mengirim pesan melalui telegraf. Tapi nanti sajalah, saat aku sudah di negeri Belanda sana. Terlebih surat bisa memuat gambar-gambar lucu dan menggemaskan untuk menggambarkan ekspresi.
Kantor pos nampak lenggang dan pegawai-pegawai sedang mempersiapkan kantor untuk menerima pelanggan. Seorang pribumi nampak memberi makan kuda pengangkut pos dan mengelus-elus kepala peliharaannya itu. Di depan pintu masuk aku disambut oleh sebuah papan yang bertuliskan HULPPOST EN TELEGRAAF KANTOOR.
Dahulu alat komunikasi jarak jauh hanya pos dan telegraf. Belum ada alat-alat canggih seperti sekarang. Kau bisa bertatap muka dengan menggunakan smartphone dengan jarak dan waktu yang tak ada batasnya, tentu dengan biaya yang murah.
Hmm.. Andai sudah ada di masa itu.
Tulisan ini untuk pertama kalinya diterbitkan di LINE pada 22 Juli 2018. Diterbitkan ulang di Catatan Rugasu agar dapat dibaca semua orang.
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar